Dandy Koswaraputra
01 Juni 2018•Update: 02 Juni 2018
Yusuf Hatip
BRUSSELS
Krisis Rohingya telah mencapai “proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya” dalam beberapa bulan terakhir dengan ratusan ribu orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan, kata komisioner Uni Eropa untuk bantuan kemanusiaan, Kamis.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Kamis, Komisi Eropa mengatakan telah mengeluarkan USD47 juta dalam bantuan kemanusiaan untuk Rohingya di Bangladesh dan Myanmar.
"Bantuan darurat kami akan memberikan pasokan penting seperti makanan, air bersih dan perawatan kesehatan serta dukungan untuk musim hujan," kata Komisaris untuk Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Krisis Christos Stylianides.
Kamp pengungsi Rohingya sangat rentan terhadap banjir bandang dan tanah longsor lumpur yang dipicu oleh musim hujan yang berlangsung, yang biasanya berlangsung hingga Oktober dan bisa membahayakan 200.000 jiwa.
Pernyataan itu mengatakan sebesar USD34 juta akan digunakan untuk mengirimkan makanan, dukungan nutrisi, air bersih dan fasilitas sanitasi, akses ke layanan perawatan kesehatan, serta peningkatan perlindungan bagi kelompok yang paling rentan di antara pengungsi dan masyarakat tuan rumah di Cox's Bazar, Bangladesh.
“Sejumlah USD8 juta laınnya akan digunakan untuk meningkatkan langkah-langkah kesiapan untuk musim hujan, yang dapat memicu banjir dan tanah longsor,” kata dia.
Menurut Stylianides, tempat para pengungsi ditampung saat ini merupakan kamp pengungsi terpadat di dunia. USD4,7 juta akan digunakan untuk Rohingya dan masyarakat tuan rumah di Negara Bagian Rakhine di Myanmar dan memberikan perlindungan, kesehatan, air, sanitasi, makanan dan dukungan psikososial, tambah dia.
Penganiayaan Rohingya
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak, dan perempuan telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas, menurut Amnesty International.
Setidaknya 9.400 orang Rohingya tewas di Rakhine dari 25 Agustus hingga 24 September tahun lalu, menurut Doctors Without Borders.
Dalam laporan yang diterbitkan baru-baru ini, kelompok kemanusiaan mengatakan kematian 71,7 persen atau 6.700 orang Rohingya disebabkan oleh kekerasan. Mereka termasuk 730 anak-anak di bawah usia 5 tahun.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat karena puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh personil keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.