Pizaro Gozali İdrus
16 Januari 2019•Update: 17 Januari 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Barisan Revolusi Nasional (BRN), faksi perlawanan bersenjata di Thailand selatan, telah menunjuk pemimpin baru, menurut sebuah sumber pemerintah Thailand, lansir Bangkok Post pada Rabu.
Perubahan pucuk pimpinan BRN ini diyakini mencerminkan keengganan kelompok tersebut ambil bagian dalam pembicaraan damai dengan Thailand.
Pergantian itu terjadi setelah Dulloh Waemanor, pemimpin BRN sebelumnya, didorong oleh otoritas Malaysia untuk menghadiri perundingan damai terbaru yang difasilitasi pemerintah Malaysia, kata sumber itu.
Posisi Dulloh kini digantikan oleh Kho Zari, 60, sekretaris jenderal BRN, kata sumber itu.
Sumber pemerintah Thailand itu juga menyebutkan kekerasan terbaru di wilayah Selatan saat ini terjadi di bawah kepemimpinan Kho Zari.
Serangan-serangan ini dimaksudkan untuk menunjukkan peran utama BRN dalam pemberontakan di selatan.
Kepolisian Thailand mencopot kepala polisi sebagai buntut penyerangan enam orang bersenjata yang menewaskan seorang sersan, lansir The Nation.
Juru bicara kepolisian, Mayjen Polisi Piya Uthayoh pada Senin mengatakan Kolonel Ampai Chumchuay, kepala kantor polisi Napradu di distrik Khok Pho, Narathiwat, sementara dipindahkan ke provinsi Yala.
"Pemindahan itu menyusul kelalaian Ampai dalam mengawasi kantor polisi," katanya kepada wartawan.
Enam pria dengan tiga sepeda motor mendekati kantor polisi pada Minggu siang guna melancarkan serangan.
Sersan polisi yang terbunuh, Chalermpon Komkham, 33, saat kejadian berjaga di depan pintu masuk.
Penyerang beberapa kali melepaskan tembakan hingga korban dinyatakan meninggal di rumah sakit.
Video CCTV menunjukkan penyerangan hanya berlangsung satu menit.
Setelah melakukan aksinya, para pelaku langsung melarikan diri melalui sepeda motor.
Penyerangan ini datang tak lama setelah keamanan Thailand mengingatkan kemungkinan terjadinya serangan di Sungai Kolok, Tak Bai, dan Muang di distrik Narathiwat antara 13-15 Januari.
Polisi belum menyimpulkan kelompok mana yang berada di belakang serangan.
Uthayoh mengungkapkan baik perdana menteri dan menteri pertahanan Thailand telah menyatakan kekhawatiran mereka tentang kelanjutan kekerasan di wilayah Selatan, dan telah memerintahkan penguatan keamanan.
Perundingan damai di Thailand Selatan kembali akan dimulai usai Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad melakukan kunjungan bersejarah ke Thailand pada Oktober lalu.
Dalam kunjungan pertamanya ke Thailand setelah menjabat, Mahathir berjanji membantu mengakhiri siklus kekerasan di wilayah tersebut di mana Malaysia ditunjuk menjadi fasilitator.
Menurut Mahathir, konflik selatan Thailand merupakan kesempatan kedua negara untuk menunjukkan persahabatan satu sama lain.
Sejak 2004, konflik bersenjata di empat provinsi di selatan Thailand telah menewaskan 7.000 jiwa.