Erric Permana
26 Maret 2018•Update: 27 Maret 2018
Erric Permana
JAKARTA
Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sepakat untuk membawa Rancangan UU (RUU) kerja sama Indonesia - Thailand di bidang pertahanan ke Paripurna DPR untuk disahkan.
Kesepakatan itu dihasilkan saat digelarnya rapat antara Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu dengan Komisi I DPR di gedung MPR/DPR pada Senin.
Ryamizard mengatakan kerja sama itu di antaranya di bidang pendidikan militer, di bidang industri pertahanan dan latihan bersama.
Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais mengatakan 10 fraksi menyetujui kerja sama tersebut. Hal ini dilakukan lantaran kedua negara dianggap banyak memiliki kesamaan. Kesamaan tersebut di antaranya di sektor keamanan terorisme dan juga penguasaan inovasi teknologi pertahanan.
"Menghadapi resiko keamanan terorisme menurut index globalnya kita ini punya index yang sama, bahkan Thailand lebih tinggi dari kita," ujar Hanafi Rais di Gedung MPR/ DPR Jakarta pada 26 Maret 2018.
RUU kerja sama ini juga kata dia berbeda dengan kerja sama dengan negara lain. Ini lantaran dalam kerja sama dengan Thailand disebutkan mengenai kerja sama pengamanan laut.
"Dengan adanya perjanjian ini kita harapkan keamanan laut kita lebih terjamin," kata dia.
Di bidang industri pertahanan, menurut Hanafi Rais Indonesia - Thailand memiliki potensi yang sangat baik.
"Thailand itu punya komitmen anggaran pertahanananya itu sampai 1,4 - 2 persen GDPnya dan itu lebih banyak dari Indonesia," kata dia.
Sementara itu Menurut Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu Thailand sangat tertarik dengan industri persenjataan Indonesia khususnya buatan PT Pindad. Namun,dia tidak menjelaskan secara rinci mengenai pembelian yang akan dilakukan Pemerintah Thailand itu.
Meski demikian kata Ryamizard, Thailand telah membeli tujuh buah pesawat CN 235 buatan PT Dirgantara Indonenesia (PT DI).
"Kerja sama ini kita yah saling menjajakilah yah, yang dia sudah beli CN235 ada sekitar tujuh pesawat," pungkas Menhan.