Maria Elisa Hospita
27 September 2018•Update: 28 September 2018
Ali H. M.Abo Rezeg
IDLIB, Suriah
Rezim Bashar al-Assad dan sekutunya melancarkan serangan kecil-kecilan meskipun gencatan senjata telah disepakati.
Pasukan rezim dan kelompok teror yang didukung Iran meledakkan desa-desa di Latakia, selatan Idlib, barat Aleppo, dan utara dan barat Hama.
Menurut sumber-sumber lokal, pasukan Assad menyerang desa Lataminah dan Abu Ubeid di Hama; Al-Rashideen dan Kafr Hamra di Aleppo; Temania dan Tal Marak di Idlib; dan Pegunungan Kurdi di Latakia.
Serangan intensitas rendah itu telah menewaskan seorang warga sipil dan melukai enam lainnya.
Fraksi-fraksi oposisi bersenjata dan kelompok Hayat Tahrir al-Sham pun menanggapi gempuran serangan tersebut dengan serangan artileri.
Kota Idlib di barat laut Suriah, yang sebagian besar wilayahnya dikuasai Tentara Pembebasan Suriah (FSA), terletak tepat di seberang perbatasan Provinsi Hatay, Turki.
Saat ini, Idlib merupakan benteng terakhir oposisi Suriah. Wilayah timur, barat, dan selatan kota itu masih dikepung oleh kelompok militan yang didukung Iran, sementara sekitar 60.000 di antaranya dikerahkan ke sekitar Idlib.
Selain itu, oposisi moderat memiliki lebih dari 70.000 pejuang di wilayah itu, dan Hayat Tahrir al-Sham dan kelompok lainnya dapat menempatkan sekitar 20.000 pejuang di sana.
Selama perundingan di Astana tahun lalu, Turki, Rusia, dan Iran menetapkan Idlib sebagai zona de-eskalasi, di mana tindakan agresi dilarang keras.
Oktober tahun lalu, Turki membangun 12 pos pengamatan gencatan senjata di zona de-eskalasi Idlib.
Dalam empat bulan terakhir, rezim Assad telah menduduki tiga zona de-eskalasi lainnya (di Homs, Ghouta Timur, dan front Daraa-Quneitra), dan kini telah mengarahkan perhatian mereka ke Idlib, yang merupakan rumah bagi sekitar empat juta warga sipil.
Sejak rezim mulai melancarkan serangan udara di barat daya Idlib dan utara Hama, Turki telah meningkatkan upaya diplomatik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di wilayah tersebut.
Konflik bersenjata di Idlib dikhawatirkan akan menyebabkan jumlah korban sipil yang cukup besar, memicu gelombang emigrasi baru, dan memungkinkan kelompok teroris menyusup ke kota.
Pada kerangka proposal yang dibuat oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pertemuan 7 September di Teheran, Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin kemudian sepakat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mempertahankan gencatan senjata di Idlib.
Kesepakatan itu membuat warga sipil di Idlib tenang. Lebih dari 50.000 orang telah kembali ke rumah-rumah mereka.
*Ali Murat Alhas turut melaporkan dari Ankara