Maria Elisa Hospita
27 September 2018•Update: 28 September 2018
Wasim Saif al-Din
BEIRUT
Pemimpin Druze sekaligus pimpinan Partai Sosialis Lebanon Walid Jumblatt menuding rezim Bashar al-Assad menggunakan kelompok teroris Daesh untuk menyabotase perjanjian - yang ditandatangani pada 17 September di kota Sochi, Rusia - antara Turki dan Rusia.
"Ratusan pejuang Daesh telah dipindahkan dari area Boukamal di Deir al-Zour ke provinsi Idlib dengan menggunakan bus berjendela gelap," cuit Jumblatt.
Tanpa mengungkapkan sumber informasi, politikus senior Lebanon itu mengatakan langkah tersebut dimaksudkan untuk "menggagalkan perjanjian [Sochi]".
Pada kerangka proposal yang dibuat oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pertemuan 7 September di Teheran, Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin kemudian sepakat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mempertahankan gencatan senjata di Idlib.
Jumblatt juga mengatakan bahwa insiden serupa terjadi pada Juli, ketika sejumlah militan Daesh dipindahkan dari daerah Al-Hajar al-Aswad ke distrik Al-Badia di provinsi Al-Suwayda, yang mayoritas penduduknya adalah Druze.
Menurut dia, mereka telah melakukan "serangan brutal" ke penduduk setempat.
Akhir Juli, teroris Daesh menculik 36 warga sipil dari Al-Suwayda - termasuk perempuan dan anak-anak - setelah melakukan serangan mematikan yang menyebabkan puluhan orang tewas.