Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
29 Januari 2020•Update: 29 Januari 2020
Mehmet Burak Karacaoglu, Esref Musa, Adham Kako
IDLIB, Suriah
Rezim Bashar al-Assad Suriah yang didukung oleh pasukan Rusia berhasil merebut kendali distrik Maarat al-Numan di Idlib pada Rabu.
Pasukan rezim mengabaikan kesepakatan yang dicapai di Astana dan Sochi sebagai bagian dari proses perdamaian Suriah dan merebut distrik terbesar di Idlib setelah bentrokan yang berkepanjangan dengan oposisi dan kelompok bersenjata anti-rezim.
Pasukan yang terdiri dari tentara rezim Assad dan kelompok-kelompok teroris asing yang didukung Iran terus bergerak maju ke selatan dan tenggara Idlib.
Pasukan rezim merebut 15 permukiman di tenggara Idlib dengan dukungan udara Rusia dan mengepung Maarat al-Numan.
Pada September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Tetapi, rezim dan pasukan Rusia di zona itu terus melanggar gencatan senjata dan menyebabkan lebih dari 1.300 warga sipil tewas.
Pada 10 Januari, Turki mengumumkan bahwa gencatan senjata baru di Idlib akan dimulai setelah 12 Januari tengah malam.
Namun, rezim dan kelompok-kelompok teroris yang didukung Iran tetap melanjutkan serangan darat mereka.
Lebih dari satu juta warga Suriah telah bergerak ke dekat perbatasan Turki untuk menghindari serangan hebat selama setahun terakhir.
Sejak meletusnya perang sipil berdarah di Suriah pada 2011, Turki telah menampung sekitar 3,7 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka, menjadikannya negara penampung pengungsi terbanyak di dunia.