Dunia

Ratusan pesawat militer AS siaga di Timur Tengah jelang perundingan Iran

Gedung Putih menegaskan diplomasi menjadi opsi utama, namun tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer

Efe Ozkan  | 25.02.2026 - Update : 25.02.2026
Ratusan pesawat militer AS siaga di Timur Tengah jelang perundingan Iran

ISTANBUL

Data sumber terbuka menunjukkan lebih dari 300 pesawat militer Amerika Serikat saat ini dikerahkan di wilayah Komando Pusat AS (CENTCOM) di Timur Tengah, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran dan menjelang perundingan nuklir tidak langsung kedua negara.

Berdasarkan penelusuran Anadolu terhadap laporan intelijen sumber terbuka, ratusan pesawat tersebut tersebar terutama di Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, dan Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Kekuatan itu juga mencakup Carrier Air Wing 8 dan 9 yang berada di atas kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford.

Sejak awal Januari, diperkirakan sekitar 270 penerbangan logistik menggunakan pesawat C-17 dan C-5 dilakukan menuju wilayah CENTCOM untuk menghimpun kekuatan udara tersebut, termasuk pengiriman sistem pertahanan rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Saat ini, sekitar 75 pesawat pengisian bahan bakar dan angkut strategis KC-46 dan KC-135 masih ditempatkan di wilayah tersebut atau dalam jalur menuju kawasan.

Komposisi kekuatan udara itu terdiri atas pesawat tempur dan pesawat pendukung. Sekitar 84 unit F-18E/F, 36 F-15E, 48 F-16C/CJ/CM, dan 42 F-35A/C membentuk hampir 70 persen dari total pesawat.

Sisanya sekitar 30 persen terdiri atas pesawat tanker serta pesawat dengan peran khusus, seperti 18 EA-18G Growler untuk peperangan elektronik, 12 A-10C Thunderbolt untuk dukungan udara jarak dekat, lima E-11A Battlefield Airborne Communications Node (BACN), dan enam E3 Sentry Airborne Warning and Control System (AWACS).

Tidak terpantau adanya pergerakan pesawat pengebom B-2 yang sebelumnya digunakan dalam Operasi Midnight Hammer pada Juni lalu.

Sorotan juga tertuju pada kehadiran udara Israel. Sejumlah analis menilai Israel mendorong langkah agresif terhadap Iran dan berpotensi terlibat dalam serangan.

Armada tempur Israel yang terdiri atas 66 F-15I/C/D, 173 F-16I/C/D, dan 48 F-35 generasi terbaru secara efektif menggandakan kekuatan udara yang dapat terlibat dalam potensi serangan terhadap Iran.

Pada Selasa (24/2), Israel dilaporkan menerima 12 pesawat siluman F-22 Raptor dari AS, yang disebut sebagai salah satu jet tercanggih dalam arsenal Washington. Penyiar publik Israel KAN melaporkan pesawat tersebut dapat digunakan untuk menembus wilayah musuh dan melumpuhkan sistem pertahanan udara serta instalasi radar. Enam F-22 tambahan juga terpantau lepas landas dari Pangkalan Udara Langley di AS dan diduga menuju Israel melalui RAF Lakenheath di Inggris.

Sementara itu, Gedung Putih menyatakan pendekatan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran tetap mengedepankan diplomasi, namun tidak menutup opsi militer jika diperlukan.

“Pilihan pertama Presiden Trump selalu diplomasi, tetapi seperti yang telah ia tunjukkan, ia bersedia menggunakan kekuatan mematikan militer Amerika Serikat jika diperlukan,” kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan.

Leavitt merujuk pada Operasi Midnight Hammer pada Juni yang disebutnya “sangat berhasil” dalam menghancurkan fasilitas nuklir Iran, sembari memperingatkan ancaman belum sepenuhnya hilang.

Pernyataan itu disampaikan menjelang putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS yang dimediasi Oman dan dijadwalkan berlangsung Kamis (26/2) di Jenewa, dengan Iran disebut akan mengajukan rancangan proposal.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın