ISTANBUL
Iran menepis tudingan Amerika Serikat dan Israel terkait program nuklir serta rudal balistiknya sebagai “disinformasi” dan “pengulangan kebohongan besar”, di tengah memanasnya kembali perundingan nuklir kedua negara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Rabu (25/2) menuduh Washington dan Tel Aviv menjalankan kampanye propaganda terhadap Teheran.
“‘Ulangi kebohongan cukup sering maka itu akan menjadi kebenaran’ adalah hukum propaganda yang dicetuskan Nazi Joseph Goebbels. Ini kini secara sistematis digunakan oleh pemerintahan AS dan para pengambil keuntungan perang di sekelilingnya, khususnya rezim Israel yang genosidal, untuk melayani kampanye disinformasi dan misinformasi jahat terhadap Bangsa Iran,” tulis Baghaei melalui media sosial X.
Ia menegaskan bahwa tuduhan terkait program nuklir Iran, rudal balistik, serta jumlah korban dalam kerusuhan Januari lalu hanyalah pengulangan “kebohongan besar”.
“Tidak seorang pun boleh tertipu oleh ketidakbenaran yang mencolok ini,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union 2026 di hadapan sidang gabungan Kongres, Selasa (24/2), menyatakan lebih memilih solusi diplomatik dengan Iran, namun berjanji tidak akan membiarkan Teheran memperoleh senjata nuklir dalam keadaan apa pun.
“Preferensi saya adalah menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi. Tetapi satu hal yang pasti: saya tidak akan pernah membiarkan sponsor teror nomor satu dunia, dan mereka memang demikian, memiliki senjata nuklir. Itu tidak boleh terjadi,” ujar Trump.
Pernyataan itu muncul menjelang putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS yang dimediasi Oman dan dijadwalkan berlangsung Kamis (26/2) di Jenewa. Iran disebut akan mempresentasikan rancangan proposal dalam pertemuan tersebut.
Kedua pihak sebelumnya menggelar perundingan tidak langsung pertama di Oman pada 6 Februari dan sepakat melanjutkan kontak. Pembicaraan kemudian berlanjut di Jenewa pada 17 Februari.
AS juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk Persia di tengah ancaman Trump untuk mengambil tindakan militer terhadap Teheran jika negosiasi nuklir gagal.
Di sisi lain, Teheran menuduh pemerintahan AS dan Israel merekayasa dalih untuk intervensi militer dan perubahan rezim. Iran menegaskan akan merespons setiap serangan, termasuk yang berskala terbatas, serta menekankan bahwa pencabutan sanksi harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan pembatasan program nuklirnya.
