Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 April 2020•Update: 29 April 2020
Nesma Seyam
GAZA, Palestina
Seperti sejumlah wilayah lainnya di dunia, bulan Ramadan tidak disambut dengan kemeriahan di wilayah Gaza, Palestina, terlebih di tengah karantina dan isolasi diri untuk mengurangi penyebaran pandemi Covid-19.
Tetapi bagi banyak penduduk, karantina virus dianggap seperti perpanjangan pengepungan yang telah diberlakukan oleh Israel sejak 2007.
Di wilayah pesisir ini, banyak orang yang membandingkan antara tinggal di dalam rumah selama 52 hari berturut-turut pada 2014 untuk menyelamatkan diri dari serangan bom Israel dengan menahan diri di rumah untuk mencegah pandemi seperti sekarang.
Warga masih beradaptasi dengan suasana asing Ramadan, yang biasanya dikaitkan dengan ikatan sosial, pesta buka puasa mewah, hidangan lezat dan aroma masakan menampar bibir yang disiapkan khusus untuk berbuka puasa.
Merasakan Ramadan yang berbeda tahun ini, Ahmed Elqattawi,25, mengatakan peristiwa yang terjadi di seluruh dunia mempengaruhi semua orang secara psikologis.
"Persiapan saya untuk Ramadhan tetap sama, tetapi kurang kegembiraan dan kesiapan mental," ujar Elqattawi.
Dia menambahkan bahwa semua ikatan lain seperti melakukan salat Tarawih berjamaah di masjid dan mengunjungi kerabat ditinggalkan karena tindakan pencegahan infeksi virus.
Tak hanya menghilangkan perayaan, pandemi ini juga memengaruhi pendapatan Elqattawi, karena pekerjaannya bergantung pada kontrak dan kerja lapangan.
Ramadan membawa kembali kenangan 2014
Bulan suci juga membawa kembali kenangan ketika Israel meluncurkan Operasi Pelindung Ujung pada 2014, yang menewaskan ratusan warga sipil di wilayah tersebut.
Mohammed Abu Oun, 31, kehilangan pamannya karena agresi tersebut. Sejak saat itu, Ramadan terus dikaitkan dengan insiden tragis yang tertanam dalam benaknya.
"Aku masih ingat dengan sangat jelas, itu adalah pagi yang paling menyedihkan yang pernah ada," kata Abu Oun.
Dia menerima berita itu ketika menemani saudara perempuannya ke sebuah rumah sakit di Kota Nuseirat setelah sebuah roket menghantam rumahnya.
Dia mengatakan bahwa energinya berbeda selama Ramadan tahun ini.
Namun, istrinya Asmaa telah menyusun balon berbentuk bulan sabit dan lentera untuk menyalakan rumah guna memberi anak-anak rasa gembira menyambut bulan suci.
"Bagian dari ritual memang hilang, tetapi saya ingin anak-anak saya setidaknya merasakan sukacita," ujar dia.
Sebagai pria yang cinta keluarga, Abu Oun biasanya membawa istri dan dua anaknya ke toko untuk mempersiapkan bulan suci.
Tahun ini, saat berbelanja sendirian, dia tidak membeli banyak barang, berharap karantina akan segera berakhir dan dia dapat menikmati bulan suci Ramadan.
Pasar sepi
Di pasar Al-Zawiya, salah satu pasar tertua di Kota Gaza dan tujuan utama belanja Ramadan, Om Ahmed, 62, yang menjual acar, sedang menunggu pelanggan.
“Kami menerima banyak pengunjung setiap tahun terutama dua minggu sebelum awal bulan suci. Tahun ini, pembeli sepi dan saya hampir tidak menghasilkan uang," ungkap dia.
Sebagai satu-satunya pencari nafkah di keluarganya, Ramadan biasanya mendatangkan berkah bagi Ahmed dalam penjualan acar - suguhan penting saat berbuka puasa bagi warga Palestina - yang pendapatannya bisa disimpan dan digunakan untuk kebutuhan keluarganya sepanjang tahun.
"Saya takut. Saya tidak punya apa-apa tahun ini karena masjid dan organisasi amal ditutup,” tutur dia.