Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Tak banyak orang yang memimpikan tinggal di Gaza dan merajut mahligai rumah tangga di sana. Gaza memang sangat identik dengan konflik tak kunjung usai antara Palestina dan Israel. Dentuman bom dan rentetan senjata menjadi teman akrab bagi masyarakat Gaza.
Namun bagi Abdillah Onim, WNI asal Galela, Maluku Utara, Gaza memiliki tempat spesial dalam hatinya. Jalan hidup telah menuntunnya ke Gaza hingga kini menetap di wilayah yang diblokade Israel itu.
Ihwal kedatangannya ke ujung negeri Palestina itu bermula saat agresi Israel tahun 2008 yang menewaskan 1600 warga Gaza. Onim berangkat ke Gaza bersama salah satu NGO kemanusiaan Indonesia yang bergerak di bidang perawatan medis darurat.
“Kebetulan saya dulu aktif jadi relawan sejak tahun 2000 dan sudah terbiasa dikirim ke wilayah bencana. Untuk ke wilayah konflik, memang baru pertama kali yaitu langsung ke Gaza. Tempat nyawa manusia seakan tak berharga,” ujarnya kepada Anadolu Agency.
Setelah mendaftarkan diri ke dalam tim, beberapa hari kemudian namanya masuk sebagai tim yang akan diberangkatkan. Rasa takut menyeruak. Kekhawatiran menyelimuti hatinya. Memang sangat manusiawi mengingat kondisi Gaza sedang darurat.
“Saya langsung telepon ibu dan almarhum ayah saya. Mereka tidak percaya dan sempat jatuh sakit saat mendengar anaknya akan berangkat ke Gaza. Alhamdulillah akhirnya keluarga mempercayakan hidup yang saya jalani dan mendukung penuh,” jelas dia.
Ia segera menemui keluarganya di Halmahera Utara untuk berpamitan sekaligus memberikan pemahaman tentang Al-Aqsa dan Palestina. “Saya masih ingat kalimat terakhir almarhum ayah saya. Ia mengatakan: Kami mendukung perjuanganmu nak. Saya, ibu, dan keluarga tidak dapat berbuat banyak untuk saudara kami di Palestina. Kami izinkan kamu pergi ke sana untuk membantu mereka. Kami sangat ikhlas,” kenangnya.
Ayahnya juga menyampaikan agar ia menjaga amanah, tidak meninggalkan shalat, serta selalu meminta pertolongan Allah. Derai air mata tak dapat dihindari ketika itu. Sesampainya di Gaza, ia menghubungi ayahnya. “Dan ia mengatakan agar saya mencari istri orang Palestina saja. Saat itu saya menolak. Ogah ah. Di mana-mana orang abis nikah itu berbulan madu, lah di sini bulan ada, tapi mana ada madu,” jawabnya kepada sang ayah dalam dialek Galela Tobelo Ternate Morotai.
Meskipun awalnya menolak, tapi itulah rahasia jodoh yang telah Allah tetapkan. Kini ia memiliki seorang istri asal Gaza yang juga penghafal Qur'an. "Allah berikan saya pendamping hidup yang sangat memahami jalan hidup dan perjuangan saya,” aku Onim.
Awal pernikahan, Onim merasakan hidup yang penuh tantangan karena perbedaan budaya. Namun, kemudahannya dalam beradaptasi membuatnya gampang menjalani kehidupan berumah tangga. “Saya mudah beradaptasi dan saya punya banyak teman di Gaza mulai dari tukang bangunan, petani, ulama, hingga pejabat,” terangnya.
Sebelum menikahi gadis Gaza, Onim sempat ber-ta'aruf (berkenalan) dengan lima muslimah dan seluruhnya gagal. “Sebelum taaruf, saya shalat istikhoroh. Sesudahnya pun begitu. Saya sempat memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena saya merasa belum jodoh. Hingga akhirnya proses taaruf dilanjutkan," ungkapnya.
Lantas seorang teman ingin memperkenalkannya dengan keluarga wanita Gaza lainnya. “Pertanyaan pertama dari orang tuanya, apakah saya muslim. Kedua, apakah saya shalat berjama’ah di masjid terutama ketika subuh. Kemudian, ia bertanya apakah saya yakin menikah dengan orang Palestina yang wilayahnya sedang konflik dan belum ada masa depan yang jelas.”
Ia menjawab seluruh pertanyaan dengan mantap. Satu hal yang ia tekankan kepada keluarga tersebut adalah bahwa statusnya merupakan seorang relawan dengan penghasilan hanya USD 100 dan tinggal di kontrakan. Onim juga menjelaskan, keluarganya hanyalah buruh tani biasa.
“Saya jujur dan blak-blakan apa adanya karena pikirku kalau jodoh sudah diatur oleh Allah. Saya katakan jujur seperti itu untuk mengetahui juga apakah nanti mereka menolak karena saya tidak mempunyai uang, dan belum jelas masa depannya," katanya.
Akhirnya, orang tua gadis setuju dan bersyukur karena bertemu dengan orang non Arab asal Indonesia yang sangat peduli dengan Palestina dan al-Aqsa. Onim lalu dipertemukan secara singkat dengan calon istrinya, seorang wanita bercadar. Satu minggu kemudian, ia menikahi sang gadis dengan mahar hanya 2000 dinar, jauh di bawah standar mahar di wilayah Arab.
“Saat ini kami dianugerahi dua anak, perempuan berusia 5 tahun bernama Filind atau Filistin Indonesia dan laki-laki berusia 2 tahun bernama Nusantara. Saat ini istri saya sedang hamil empat bulan untuk anak ketiga kami,” imbuh Onim.
Dalam mengisi hari-harinya di Gaza, Onim menjalani berbagai pekerjaan mulai sebagai wartawan, penulis, hingga dipercaya sebagai Ketua Daarul Qur’an Indonesia, yayasan milik Ustadz Yusuf Mansur. “Kami membangun pusat tahfidz di Gaza dan memiliki santri lebih dari 250 orang selama empat tahun. Dan kini ada 50 anak Gaza yang kami bombing sudah hafal 30 juz Al-Qur’an,” terangnya.
Onim juga dipercaya untuk memonitor program dompet peduli umat Daarut Tauhid yayasan milik KH. Abdullah Gymnatsiar atau akrab disapa Aa Gym. “Yayasan ini membangun masjid dan juga pusat tahfidz. Kemudian juga ada pusat pemberdayaan muslimah dan janda melalui pelatihan menjahit dan rencana untuk membuat peternakan di Gaza,” terang Onim.
news_share_descriptionsubscription_contact

