04 Agustus 2017•Update: 05 Agustus 2017
Shenny Fierdha
BOGOR
Organisasi kemanusiaan Dompet Dhuafa (DD) menyelenggarakan acara “The Sound of Humanity, Palestina adalah Kita” dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap Palestina, di Depok, Jawa Barat, Kamis.
Pada acara ini, musik dijadikan medium menghimpun bantuan masyarakat. “Kenapa bertemakan musik? Karena acara musik itu lebih lose, santai, dan informal. Jadi lebih bisa menggaet masyarakat,” kata Direktur Mobilisasi Zakat Infak Sedekah (ZIS) DD Bambang Suherman kepada Anadolu Agency.
Segelintir musisi kenamaan Indonesia seperti Mohammad Istiqamah “Is” Djamad dari band Payung Teduh serta penyanyi jebolan ajang pencarian bakat Indonesian Idol M. Ihsan Tarore turut diundang untuk memeriahkan acara.
Tak hanya menyumbangkan suara, mereka juga melelang barang-barang seperti baju maupun suvenir kepada para penonton yang memadati Forest Coffee and Food Camp.
Tokoh lain yang hadir adalah penulis Nadhira Arini. Ia membacakan puisi menggugah mengenai penderitaan warga Palestina. Selain itu, ada juga tokoh Palestina Syekh Ayman Abdul Qodir Almabhuh yang berbagi sekelumit cerita mengenai negara asalnya serta situasinya saat ini.
“Dana terkumpul dari lelang maupun dari booth zakat akan didonasikan sepenuhnya untuk rakyat Palestina,” kata staf Hubungan Masyarakat DD Bani Kiswanto.
Organisasi yang telah berkiprah dalam dunia kemanusiaan sejak 1993 itu menilai, Palestina merupakan garda terdepan menjaga kesucian Masjid al-Aqsa, Jerusalem. Kawasan masjid tersebut sempat ditutup otoritas Israel, pertengahan Juli ini.
Terlebih, di mata DD, inti polemik Palestina bukanlah menyangkut agama. Inti semua itu adalah isu kemanusiaan di mana warga Palestina dirampas haknya oleh pemerintah Israel.
Suatu ironi pahit yang mengherankan, sebab, puluhan tahun setelah Perang Dunia II, kenapa masih ada negara yang hidup di bawah pendudukan bangsa lain?
Oleh sebab itu, DD tak henti-hentinya mengunjungi Palestina dalam misi kemanusiaan.
Bambang mengatakan, awalnya DD memberikan bantuan jangka pendek seperti logistik dan obat-obatan.
Namun seiring waktu, DD menyadari bantuan akan lebih berarti jika dapat diaplikasikan dalam jangka panjang.
“Akhirnya pada 2008, kita membuat program yang lebih sustainable, yaitu merevitalisasi pabrik roti di Jabalia, Palestina. Pabrik tersebut sudah lama tak beroperasi karena peralatannya rusak dan modalnya habis,” ujar Bambang.
Setelah diperbaiki, pabrik tersebut mampu beroperasi kembali dan menghasilkan 10.000 roti per harinya sehingga kebutuhan pangan terpenuhi. Sayangnya, pabrik tersebut hanya bertahan selama 3 tahun karena hancur akibat serangan Israel.
Namun organisasi pimpinan Presiden Direktur Ismail A. Said ini, tidak patah arang. Mereka terus memutar otak mencari bentuk bantuan lain yang bisa diberikan.
Dua tahun kemudian, mereka memutuskan membuat sumur demi menunjang kebutuhan air dan irigasi Palestina.
“Pada Agustus 2010, DD membuat sumur air di Khan Yunis, Palestina, sebanyak 2 unit. Volume airnya besar sampai bisa mengairi sekitar 300 hektar lahan pertanian,” kata Bambang.
Guna merealisasikannya, DD bekerja sama dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal di Palestina. Mengingat kondisi geografis Palestina didominasi gurun, Bambang mengatakan pihaknya harus mengebor tanah sampai kedalaman 200 meter lebih demi mendapatkan air.
“Itu seperti teknologi pertambangan di Indonesia. Jadi kita ibarat menambang air di sana saking dalamnya.”
Meski sempat terkena serangan Israel juga, namun karena luas wilayah sumur mencakup lebih 200 hektar, serangan tersebut tidak menghancurkan seluruh sumur sehingga sampai sekarang masih bisa beroperasi. Warga Palestina bisa menanami lahan pertanian mereka dengan tomat, timun, jeruk, dan sebagainya.