Rhany Chairunissa Rufinaldo
21 November 2019•Update: 21 November 2019
Elena Teslova
MOSKOW
Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim bahwa sejumlah negara di Eropa Timur kemungkinan akan meninggalkan Uni Eropa pada 2028, ketika mereka berhenti menerima sumbangan dan hibah dan harus mulai membayar.
Berbicara pada pertemuan pleno sebuah forum investasi modal di Moskow pada Rabu, Putin membandingkan Uni Eropa dengan bekas Uni Republik Sosialis Soviet (Uni Soviet) dalam hal masalah ekonomi dan administrasi politik.
Dia mengatakan pada pergantian tahun 2028, beberapa negara Eropa Timur akan mencapai tingkat perkembangan ekonomi di mana mereka tidak lagi menjadi penerima hibah dan berbagai jenis bantuan dari anggaran Eropa, tetapi harus membayar seperti yang terjadi pada Inggris.
"Dan saya tidak yakin apakah mereka tidak akan memiliki pemikiran yang sama seperti yang dimiliki Inggris hari ini [tentang penarikan dari Uni Eropa]," ujar dia.
Putin menambahkan bahwa saat ini, terdapat kontradiksi seputar alokasi pajak di Uni Eropa karena bagian penting dari pajak yang dikumpulkan di negara maju digunakan untuk bantuan terhadap negara-negara dengan ekonomi lemah.
Menanggapi pertanyaan tentang apakah krisis yang mendahului runtuhnya USSR dapat dibandingkan dengan kesulitan internal UE saat ini, presiden mengatakan Rusia tertarik untuk melestarikan hubungan dengan mitra bisnis terbesarnya, Uni Eropa.
“Karena hasil kejatuhan Uni Soviet lebih buruk daripada ekspektasi paling negatif [yang pernah ada],” tutur dia.
Mengenai administrasi politik, Putin mengatakan jumlah keputusan yang diadopsi oleh Uni Eropa dan mengikat semua negara anggota lebih tinggi daripada jumlah keputusan yang diambil oleh Soviet dan mengikat negara perserikatannya.