Maria Elisa Hospita
29 Januari 2018•Update: 29 Januari 2018
Ebru Sengul
ANKARA
Parlemen Inggris menyatakan bahwa Brexit berisiko terhadap perdagangan energi dengan Uni Eropa.
Komite Energi dan Lingkungan Inggris pada Senin merilis laporan tentang Brexit terkait keamanan energi, sekaligus implikasinya terhadap pasokan energi, biaya konsumen, dan dekarbonisasi.
Komite meminta pemerintah Inggris untuk memikirkan antisipasi kekurangan energi, dan menilai dampak untuk pasar energi internal atas harga yang harus dibayar konsumen.
Kemampuan Inggris untuk membangun situs pembangkit nuklir masa depan kembali diragukan jika akses spesialis pekerja UE dibatasi.
"Komite menemukan bahwa investasi UE telah memberikan kontribusi penting dalam membangun dan mempertahankan sistem energi di Inggris, dan dengan mengganti pendanaan ini akan berpengaruh pada persediaan infrastruktur yang memadai untuk perdagangan energi di masa depan," jelas Komite.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa pasca Brexit, Inggris kemungkinan akan lebih rentan pada kekurangan pasokan energi saat badai ekstrem.
Komite mendesak pemerintah untuk merancang kerja sama dengan UE untuk mengantisipasi dan mengelola kemungkinan-kemungkinan terburuk.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa UE adalah mitra dagang energi utama untuk Inggris, yang memasok sekitar 12 persen gas Inggris dan 5 persen listrik pada 2016, yang diperkirakan akan terus meningkat selama lebih dari lima tahun mendatang.