Dunia

Perundingan nuklir Iran dan AS kembali digelar di Swiss dengan mediasi Oman

Iran menuntut pencabutan sanksi, sementara AS meminta penghentian penuh pengayaan uranium

Ahmet Dursun, Mustafa Melih Ahıshalı, Muhammet İkbal Arslan, Muhammad Abdullah Azzam  | 17.02.2026 - Update : 17.02.2026
Perundingan nuklir Iran dan AS kembali digelar di Swiss dengan mediasi Oman

JENEWA

Putaran kedua perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Oman resmi dimulai di kota Jenewa, Swiss, Selasa (17/2), menurut laporan televisi pemerintah Iran.

Perundingan dilakukan secara tidak langsung melalui pertukaran pesan dan berlangsung di Kedutaan Besar Oman di Jenewa. Putaran ini merupakan kelanjutan dari pembicaraan sebelumnya di Muscat yang bertujuan menghidupkan kembali proses diplomasi yang sempat terhenti akibat konflik dan eskalasi militer pada Juni 2025.

Dalam pembicaraan di Jenewa, delegasi Iran dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara pihak Amerika Serikat diwakili Utusan Khusus Presiden Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. Delegasi AS juga dilaporkan mencakup penasihat Trump, Jared Kushner.

Perundingan dikoordinasikan oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi. Dalam rangkaian pertemuan tersebut, Araghchi dan Witkoff masing-masing bertemu secara terpisah dengan Busaidi.

Menurut keterangan, dalam pertemuan Araghchi dengan Busaidi dibahas pandangan Iran mengenai isu nuklir dan pencabutan sanksi.

Araghchi menyampaikan komitmen Iran untuk menggunakan diplomasi yang berorientasi pada hasil guna menjamin kepentingan dan hak-hak sah negaranya serta menjaga stabilitas kawasan.

Busaidi menyatakan apresiasi atas tekad Iran menempuh jalur diplomasi dan menyampaikan harapan agar putaran pembicaraan ini dapat berlangsung sukses.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pada tahap ini delegasi Iran juga melibatkan pakar teknis, hukum, dan ekonomi, dengan fokus utama pada pencabutan sanksi ekonomi.

Isu pengayaan uranium serta pemindahan cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri tetap menjadi pokok perbedaan utama. Iran menuntut pencabutan sanksi sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya, sedangkan AS meminta penghentian total aktivitas pengayaan uranium.

Washington juga ingin memasukkan program rudal Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan dalam agenda pembicaraan. Namun, Iran menegaskan hanya akan bernegosiasi terkait program nuklir.

Di tengah proses diplomasi ini, penambahan kekuatan militer AS di kawasan terus berlanjut, sementara Korps Garda Revolusi Iran juga menggelar latihan militer di Selat Hormuz terkait ancaman keamanan.

Putaran kedua pembicaraan di Jenewa dinilai penting karena hasilnya dapat memengaruhi stabilitas keamanan regional serta pasar energi global.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın