Maria Elisa Hospita
06 November 2017•Update: 06 November 2017
Safvan Allahverdi, Nisa Muhammad, George Bernard
WASHINGTON
Sedikitnya 26 tewas setelah seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di dalam gereja saat ibadah Minggu berlangsung, kata Gubernur Texas Greg Abbott dalam konferensi pers.
Pria bersenjata tersebut berbaju serba hitam "lengkap dengan rompi balistik" menembak dari luar gedung gereja sebelum akhirnya memasuki Gereja Baptis Pertama di Sutherland Springs, daerah pedesaan yang berpenduduk sekitar 700 warga, yang terletak 35 mil sebelah timur San Antonio.
Seorang warga setempat sempat menembak pria bersenjata tersebut dengan senapan. Setelah perburuan singkat, ia ditemukan tewas.
"Saat ini kami belum dapat mengkonfirmasi apakah luka tembak pada tubuh tersangka merupakan aksinya sendiri atau akibat tembakan warga," ujar Direktur Regional Departemen Keamanan Publik Texas Freeman Martin.
Pihak berwenang juga belum mampu mengetahui motif mau pun identitas tersangka, namun laporan berbagai media mengidentifikasi tersangka sebagai Devin Patric Kelley, 26, yang berasal dari county terdekat.
Pentagon telah mengkonfirmasi bahwa Kelley merupakan anggota militer Amerika Serikat dan pernah bertugas di Pangkalan Angkatan Udara di New Mexico dari 2010 hingga dinyatakan berhenti. Pentagon tidak menyebutkan alasan pemberhentiannya.
Martin mengatakan, 23 korban ditemukan tak bernyawa di dalam gedung gereja, 2 di luar gedung, dan 1 tewas di rumah sakit.
Sekitar 20 korban luka, baik luka ringan hingga berat, telah dievakusi ke rumah sakit setempat.
"Insiden ini adalah penembakan massal terparah sepanjang sejarah negara bagian kita," kata Abbott.
Korban insiden ini berkisar dari usia 5 - 72 tahun, namun tidak dijelaskan apakah kisaran tersebut mengacu pada seluruh korban jiwa.
FBI dan pejabat penegak hukum lainnya tengah berjaga-jaga di beberapa lokasi, termasuk area gereja dan rumah tersangka. Menurut Sheriff Joe Tackitt, pihaknya belum mengidentifikasi identitas para korban.
Turki adalah salah satu negara pertama yang mengecam aksi teror tersebut dan telah menyampaikan ucapan dukacita.
"Kami mengutuk keras insiden ini dan memohon rahmat Allah bagi para korban jiwa dan kami turut berbela sungkawa dengan warga AS," tulis Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataan.
Presiden Donald Trump yang sedang berada di Jepang dalam rangka kunjungan ke negara-negara Asia, menyebut "insiden mematikan" tersebut sebagai "aksi keji". Ia telah menghubungi Abbott dan mengapresiasi polisi dan petugas medis yang telah sigap bertindak.
Doa bersama digelar di sekitar gereja dan dihadiri oleh 100 orang, termasuk Abbott.
Insiden penembakan ini terjadi sebulan setelah insiden di Las Vegas, Nevada, yang menewaskan 58 jiwa, dan juga bertepatan dengan peringatan delapan tahun penembakan di Ft. Hood, Texas, yang menewaskan 13 jiwa, di 150 mil utara Sutherland Springs.
*Koresponden Anadolu Agency Safvan Allahverdi, Nisa Muhammad, dan George Bernard melaporkan dari Washington DC