Beril Canakci
21 Maret 2025•Update: 21 Maret 2025
ISTANBUL
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis mengatakan bahwa krisis kemanusiaan Suriah tetap menjadi salah satu yang terbesar di dunia, dengan 16,5 juta orang membutuhkan bantuan mendesak.
Meskipun ada harapan menuju lebih baik menyusul penggulingan rezim Assad Desember lalu, situasi masyarakat di sana terus memburuk, kata Adam Abdelmoula, Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Suriah.
Abdelmoula memberikan penjelasan kepada wartawan di New York melalui tautan video dari Damaskus, menyoroti kondisi mengerikan yang masih dihadapi negara tersebut.
Menurut PBB, keberadaan ranjau darat dan sisa-sisa bahan peledak perang telah menyebabkan lebih dari 600 korban sejak Desember, sepertiganya adalah anak-anak.
Sejak Desember, sekitar 1,2 juta orang telah kembali ke rumah mereka, termasuk 885.000 pengungsi internal dan 302.000 pengungsi. UNHCR memperkirakan bahwa hingga 3,5 juta pengungsi dan pengungsi internal mungkin akan kembali tahun ini, tetapi kepulangan ini terhambat oleh kurangnya layanan dasar, risiko keamanan yang berkelanjutan, dan kurangnya dokumentasi hukum.
Selain itu, pembekuan dana kemanusiaan pada bulan Januari telah menimbulkan dampak yang sangat buruk terhadap operasi di Suriah timur laut, khususnya di kamp-kamp IDP dan permukiman informal.
Meski ada beberapa gerakan menuju pemulihan, permusuhan terus berlanjut di wilayah utara, selatan, dan pesisir, yang menyebabkan ribuan orang mengungsi dan mempersulit bantuan kemanusiaan untuk menjangkau mereka yang membutuhkan. Eskalasi terkini di wilayah pesisir telah mengakibatkan ratusan korban jiwa dan kerusakan besar pada infrastruktur, termasuk fasilitas kesehatan.
Abdelmoula menekankan bahwa semua pihak harus berkomitmen untuk melakukan de-eskalasi dan memastikan akses bantuan tanpa hambatan.
Setelah runtuhnya rezim Assad pada bulan Desember, otoritas Suriah yang baru meluncurkan inisiatif untuk menyelesaikan status mantan anggota rezim di militer dan pasukan keamanan, bergantung pada penyerahan senjata mereka dan tetap tidak ternoda oleh pertumpahan darah.
Sementara puluhan ribu orang menerima inisiatif tersebut, beberapa kelompok bersenjata yang terdiri dari sisa-sisa rezim, khususnya di wilayah pesisir tempat perwira tinggi Assad ditempatkan, menolaknya.
Seiring berjalannya waktu, kelompok-kelompok ini melarikan diri ke daerah pegunungan, menimbulkan ketegangan, mengganggu stabilitas wilayah, dan melancarkan serangan sporadis terhadap pasukan pemerintah dalam beberapa minggu terakhir.
Assad, pemimpin Suriah selama hampir 25 tahun, melarikan diri ke Rusia pada 8 Desember 2024, mengakhiri rezim Partai Baath, yang telah berkuasa sejak 1963.
Ahmed al-Sharaa, yang memimpin pasukan anti-rezim Assad, dinyatakan sebagai presiden untuk masa transisi pada akhir Januari kemarin.