Rhany Chairunissa Rufinaldo
20 Februari 2019•Update: 22 Februari 2019
Bayram Altug
JENEWA
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia pada Selasa menyatakan keprihatinannya terkait laporan soal serangan mematikan yang menargetkan masyarakat Kashmir dan Muslim di India baru-baru ini.
"Saya prihatin dengan laporan dari India bahwa beberapa elemen menggunakan serangan Pulwama sebagai pembenaran untuk ancaman dan potensi aksi kekerasan yang menargetkan masyarakat Kashmir dan Muslim," ujar Michelle Bachelet.
Sebuah bom mobil mematikan yang meledak pada 14 Februari menewaskan sedikitnya 44 pasukan paramiliter di Jammu dan Kashmir, di mana pemerintah India menuding Pakistan sebagai aktor dibalik serangan.
Bachelet mengecam keras serangan itu dan menuntut pihak berwenang untuk membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.
"Kami mengakui tindakan yang diambil oleh otoritas India untuk mengatasi insiden ini dan kami berharap bahwa Pemerintah akan terus mengambil langkah-langkah untuk melindungi warga dari segala bentuk kekerasan yang mungkin diarahkan pada mereka karena etnis atau identitas mereka," katanya.
"Kami berharap peningkatan ketegangan antara dua negara tetangga yang bersenjata nuklir itu tidak akan menambah ketidakamanan di kawasan tersebut," tambahnya.
Jammu dan Kashmir, sebuah wilayah di Himalaya yang mayoritas penduduknya Muslim, dikuasai oleh India dan Pakistan sebagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sebagian kecil Kashmir juga dikuasai oleh China.
Sejak berpisah pada 1947, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya memperebutkan Kashmir.