Muhammad Abdullah Azzam
29 Juli 2019•Update: 30 Juli 2019
Enes Canlı
TRIPOLI
Perwakilan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Libya Ghassan Salame memperingatkan kepada Khalifa Haftar tentang konsekuensi "konflik yang memanas dan meningkatnya intervensi asing" di negara tersebut.
Menurut pernyataan yang dibuat oleh Perwakilan Khusus PBB di Libya, Salame berjumpa dengan Komandan Haftar di kota Rajma guna membicarakan perdamaian, kembali ke dialog dan perkembangan terkini di Libya.
Salame memperingatkan bahwa konflik yang berlanjut dan meningkatnya intervensi asing akan memperburuk kondisi negara tersebut.
Sebelumnya perwakilan PBB itu telah berjumpa dengan Fayez Mustafa al-Sarraj Ketua Dewan Pemerintah Nasional Libya (GNA) ketika menghadiri upacara pemakaman Presiden Tunisia.
Dalam pertemuan tersebut, Al-Sarraj mengungkapkan Haftar perlu menarik diri dari Tripoli untuk memulai kembali proses politik di Libya.
Libya masih dilanda krisis kekerasan sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan terbunuhnya Presiden Muammar Khaddafi setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu, perpecahan politik Libya menghasilkan dua kursi kekuasaan saingan - satu di Al-Bayda dan satu lagi di Tripoli - bersama dengan sejumlah kelompok milisi bersenjata berat.
Pada Senin, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB mengatakan sedikitnya 76 orang, termasuk 24 warga sipil, tewas sejak bentrokan pecah di Tripoli.
GNA menuduh pasukan pimpinan Haftar yang berbasis di Libya Timur berada dibalik serangan tersebut.
Pemimpin pasukan militer di timur Libya Komandan Khalifa Haftar menginstruksikan penyerangan pada 4 April untuk mengambil alih ibu kota Tripoli, sedang pasukan GNA meluncurkan operasi "Burkan al-Ghadab".