Muhammad Abdullah Azzam
19 Agustus 2020•Update: 24 Agustus 2020
Ayhan Şimşek
BERLIN
Dalam percakapan via telepon Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas krisis politik di Belarus baru-baru ini, kata juru bicara pemerintah Berlin pada Selasa.
Jubir Kanselir Jerman Steffen Seibert mengatakan dalam siaran persnya bahwa kedua pemimpin membahas situasi terbaru di Belarus setelah pemilihan presiden yang diadakan pada 9 Agustus kemarin.
“Kanselir menekankan bahwa pemerintah Belarus harus menahan diri dari menggunakan kekerasan terhadap demonstran yang damai, dan segera membebaskan tahanan politik dan memulai dialog nasional dengan oposisi dan masyarakat untuk mengatasi krisis,” ungkap Seibert.
Dalam pernyataan terpisah, Kremlin juga mengatakan kedua pemimpin itu telah melakukan "diskusi mendalam terkait perkembangan di Belarus setelah pemilihan presiden."
“Pihak Rusia menekankan bahwa setiap upaya untuk mencampuri urusan dalam negeri negara di luar yang mengarah ke eskalasi krisis lebih lanjut tidak dapat diterima,” kata pernyataan itu.
Kedua pemimpin berharap situasi kembali normal secepat mungkin, sebut Kremlin.
Negara-negara Uni Eropa menolak hasil pemilihan presiden Belarus, karena puluhan ribu demonstran turun ke jalan menuntut pemilihan baru yang adil.
Pemimpin oposisi Belarusia Svetlana Tikhanovskaya mengatakan pada Senin bahwa dia "siap untuk memimpin bangsa" melalui masa transisi untuk mengakhiri kerusuhan dan mengambil kekuasaan "dalam waktu singkat" dalam "pemilihan presiden baru yang adil dan terbuka".
Alexander Lukashenko, yang berkuasa selama 26 tahun, secara resmi memenangkan pemilihan dengan 80,1 persen suara. Saingan utamanya Tikhanovskaya hanya meraih 10,12 persen suara, menurut Komisi Pemilihan.
Lukashenko menolak untuk mengadakan pemungutan suara baru.