09 Agustus 2017•Update: 09 Agustus 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno Marsudi menandatangani dokumen kerjasama Rencana Konsultasi antara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia Tahun 2017-2019.
Penandatangan ini dilakukan bersama Menlu Rusia, Sergey Viktorovich Lavrov, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Rabu. Kedatangan Lavrov ini merupakan kunjungan resmi bilateral pertamanya ke Indonesia.
“Dokumen tersebut menunjukkan keinginan kedua kementerian luar negeri untuk mengintensifkan hubungan, konsultasi, dan komunikasi antara Indonesia dengan Rusia,” kata Menteri Retno saat memberikan pernyataan bersama.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membahas penguatan kemitraan dan persahabatan menjadi kemitraan strategis. Hal ini guna mengantisipasi kerjasama keduanya di segala bidang, termasuk ekonomi, perdagangan, politik dan keamanan.
Walau belum ada rencana pasti, keduanya setuju segera membahas kemitraan strategis ini. Diharapkan kemitraan ini diluncurkan bertepatan dengan kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia.
Tujuan kehadiran Putin ke Indonesia dalam rangka memenuhi undangan Presiden Indonesia Joko Widodo yang disampaikan Mei tahun lalu.
Sejauh ini belum ada tanggal pasti kapan orang nomor satu di Rusia tersebut datang ke Indonesia.
Terkait kerjasama di bidang ekonomi, Menteri Retno juga mengatakan Indonesia sedang berusaha meningkatkan ekspose presensi Indonesia di Rusia dalam 2 tahun terakhir ini lewat Festival Indonesia di Moskow, Rusia. Festival yang diselenggarakan selama 3 hari setiap tahunnya itu menunjukkan keunggulan Indonesia di bidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM), wisata, dan forum bisnis.
“Tanggapan dari publik Rusia dan komunitas bisnis di sana sangat menjanjikan. Tahun lalu festival dihadiri 68.000 orang, sedangkan tahun ini pengunjungnya mencapai 91.600 orang,” kata Menteri Retno.
Indonesia juga berharap Rusia mendukung keinginan Indonesia untuk bergabung dengan Eurasian Economic Union.
Menyangkut bidang politik dan keamanan, kedua menlu turut membahas isu regional dan internasional yang meliputi kondisi terkini di semenanjung Korea, Laut Cina Selatan, dan Timur Tengah.
“Kami sudah melakukan pertemuan sebanyak 3 kali terkait bidang keamanan mulai dari tahun 2015 sampai 2017,” tutupnya.