Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 Maret 2019•Update: 28 Maret 2019
Umar Farooq
WASHINGTON
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo bertemu dengan Muslim Uighur yang pernah mengalami penahanan warga minoritas di China, kata Departemen Luar Negeri Rabu.
Pompeo pada Selasa bertemu dengan Mihrigul Tursun, yang selamat dari kamp penahanan di Xinjiang, bersama dengan Gulchehra Hoja, Ferkat Jawdat dan Arfat Erkin, warga Uighur yang kerabatnya ditahan atau dijatuhi hukuman pidana oleh pihak berwenang China.
"Kisah-kisah para penyintas ini hanyalah sebagian kecil dari ratusan kisah lainnya dari para penyintas kampanye represif China di Xinjiang," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Robert Palladino dalam sebuah pernyataan.
Wilayah Xinjiang adalah rumah bagi 13 juta warga Uighur.
Kelompok Muslim Turki, yang membentuk sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang, telah lama menuduh otoritas China melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi
Menurut pejabat AS dan ahli PBB, sekitar 1 juta orang, atau sekitar 7 persen dari populasi Muslim di wilayah Xinjiang China, kini dipenjara dalam "kamp pendidikan ulang politik" yang terus berkembang.
Dalam sebuah laporan September lalu, Human Rights Watch menuduh pemerintah China melakukan kampanye sistematis pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.
Menurut laporan setebal 117 halaman itu, pemerintah China melakukan penahanan, penyiksaan dan penganiayaan massal terhadap warga Uyghur di wilayah tersebut.
Laporan HAM tahunan Departemen Luar Negeri AS merinci sejumlah pelanggaran yang dilakukan di kamp-kamp China, seperti penyiksaan, pengawasan represif, paksaan untuk menyediakan minuman beralkohol dan daging babi di rumah-rumah Muslim, penyitaan Al-Quran, pelecehan seksual dan pembunuhan.
Pompeo berjanji bahwa AS akan mendukung upaya untuk mengakhiri kampanye China melawan minoritas Muslim di negara itu.
"Kami menyerukan pemerintah China untuk segera membebaskan anggota keluarga orang-orang ini dan semua yang ditahan secara sewenang-wenang di kamp-kamp itu," tegas Palladino.