Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
31 Desember 2019•Update: 01 Januari 2020
Burak Milli
IDLIB, Suriah
Setidaknya 49 keluarga mengungsi di sebuah masjid di Kota Idlib, Suriah, untuk berlindung dari serangan terhadap warga sipil yang dilancarkan oleh rezim Bashar al-Assad dan pasukan Rusia.
Cuaca musim dingin yang parah juga membuat kehidupan menjadi lebih sulit, meskipun Bulan Sabit Merah Turki terus memasok makanan dan selimut untuk para pengungsi.
Berbicara kepada Anadolu Agency, Abdullah Sharaf al-Din, salah satu pengungsi, mengatakan bahwa mereka harus meninggalkan rumah mereka untuk menghindari serangan bom oleh Rusia dan rezim Suriah.
Dia berlindung di masjid dengan istri dan enam anaknya sejak sembilan hari yang lalu dan berjuang untuk bertahan hidup di tengah musim dingin yang keras.
Istri Abdullah mengatakan bahwa anak-anaknya sakit karena cuaca dingin.
Dia menyatakan harapannya agar perang segera berakhir sehingga mereka dapat kembali ke rumah.
Sementara itu, pengungsi lainnya Fatima Ahmadi mengungkapkan bahwa dia berlindung di masjid sejak dua hari yang lalu dengan anak-anaknya untuk menghindari serangan bom di kotanya, Maarat Al-Numan.
Dia menceritakan bahwa kondisi hidup mereka sangat buruk dan dia tidak bisa menemukan tempat selain masjid untuk melindungi anak-anaknya.
Ahmadi berterima kasih kepada semua organisasi dan lembaga yang mendukung mereka, terutama di tengah cuaca yang dingin.
Sejak November, gelombang serangan rezim Suriah dan para pendukungnya memaksa lebih dari 264.000 warga sipil mengungsi dari Idlib ke wilayah-wilayah dekat perbatasan Turki.
Pada 20 Desember, rezim Assad dan sekutunya meluncurkan kampanye militer di Kota Maarat Al-Numan dan Saraqib serta daerah pedesaan di sekitarnya.
Serangan udara di wilayah itu dihentikan setelah kunjungan delegasi Turki ke Moskow yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Sedat Onal pada 23 Desember.
Sebelumnya pada September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Sejak itu, lebih dari 1.300 warga sipil tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh rezim dan pasukan Rusia di zona de-eskalasi dan gencatan senjata terus dilanggar.
Tahun ini, lebih dari satu juta warga Suriah melarikan diri ke arah perbatasan Turki setelah mengalami serangan hebat.
Menurut Koalisi Nasional untuk Pasukan Revolusioner dan Oposisi Suriah, populasi di Provinsi Idlib terdiri dari 3 juta warga sipil dan 75 persen di antaranya adalah wanita dan anak-anak.
Sejak meletusnya perang sipil di Suriah pada 2011, Turki telah menampung lebih dari 3,6 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka, menjadikannya sebagai negara yang menampung pengungsi terbanyak di dunia.
Menurut data resmi, Ankara sejauh ini telah menghabiskan USD40 miliar untuk para pengungsi.