Maria Elisa Hospita
21 Desember 2018•Update: 22 Desember 2018
Muhammad Mussa
LONDON
Seorang mantan diplomat mengkritik definisi baru Islamofobia yang dikemukakan oleh kelompok parlemen Inggris bulan lalu.
Dalam sebuah laporan berjudul 'Mengartikan Islamofobia', Sir John Jenkins mengkritisi definisi dan tujuan penelitian yang dilaksanakan oleh kelompok parlemen.
Pada 27 November, All-Party Parliamentary Group (APPG) memaparkan definisi Islamofobia dan menyimpulkan bahwa "Islamofobia berakar pada rasisme dan merupakan jenis rasisme yang menargetkan ekspresi keislaman".
“Tidak diragukan lagi bahwa anggota parlemen terlibat dalam hal ini. Kebencian dan kefanatikan anti-Muslim adalah masalah yang perlu ditangani baik secara politik, sosial, dan individual. Namun definisi Islamofobia itu dikhawatirkan akan memecah belah dan merusak kohesi sosial,” jelas Jenkins.
Dia juga memperingatkan bahwa seandainya pemerintah mengadopsi definisi ini, maka akan membahayakan kebebasan berbicara, kebebasan pers, dan memungkinkan serangan terbuka terhadap kebijakan kontra-ekstremisme.
Jenkins, yang adalah mantan duta besar Inggris untuk Libya, Suriah, dan Myanmar, juga mempertanyakan bagaimana proses penyusunan laporan itu.
Menurut dia, definisi yang diusulkan seharusnya dapat digunakan oleh kelompok-kelompok Islam untuk melindungi diri dari kritik dan merealisasikan tujuan mereka.
Hingga saat ini, APPG belum menanggapi kritik dan pertanyaan yang diajukan oleh Jenkins.