Pizaro Gozali İdrus
02 Maret 2018•Update: 02 Maret 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Ratusan pemuda Muslim dari Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) menggelar aksi peduli Ghouta di depan Kedutaan Besar Suriah di Jakarta, Jumat.
“Kami mengecam segala bentuk kekerasan Bashar Assad kepada warga Ghouta,” ujar koordinator aksi Fahrudin Alwi.
Para peserta yang terdiri dari mahasiswa dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi ini membawa foto-foto anak Ghouta yang tewas untuk mengetuk kesadaran masyarakat Indonesia.
Menurut Fahrudin, kekerasan yang dilakukan Bashar al-Assad bertentangan dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin nilai-nilai kemanusiaan sebuah bangsa.
“Serangan Bashar al-Assad juga bertentangan dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,” kata Fahrudin.
Fahrudin melanjutkan, serangan Assad kepada Ghouta Timur sudah terjadi berkali-kali, sementara dunia belum lupa pelanggaran HAM yang dilakukan rezim Assad di Aleppo.
“Meski mengaku menyerang oposisi, tapi rezim Assad justru membunuh rakyat sipil,” kata Fahrudin.
Fahrudin meminta Pemerintah Indonesia untuk terlibat dalam meredakan konflik di Suriah yang sudah berlangsung selama tujuh tahun.
“Kami sangat mendukung pemerintah Indonesia berperan aktif dalam perdamaian dunia,” tukas Fahrudin.
Selain di ibu kota, Fahrudin menyampaikan aksi serupa digelar di 37 titik kota di Indonesia seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan lain sebagainya.
Dalam aksi tersebut, organisasi pemuda ini juga melakukan penggalangan dana untuk mengirimkan bantuan untuk membantu warga Ghouta Timur.
Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim Assad meningkatkan serangan mereka terhadap Ghouta Timur, sehingga warga tidak bisa menerima makanan atau obat-obatan. Ribuan pasien diperkirakan membutuhkan perawatan medis.
Menurut pasukan pertahanan sipil White Helmets, serangan rezim membunuh 389 orang Ghouta Timur dalam enam hari ini.
Perang sipil merebak di Suriah pada Maret 2011 ketika rezim Bashar al-Assad mulai menindak keras demonstrasi pro-demokrasi
Ratusan ribu warga sipil menjadi korban konflik itu yang melibatkan pasukan koalisi menyerang oposisi. Jutaan lainnya terpaksa melarikan diri dan mengungsi.