Rhany Chairunissa Rufinaldo
05 September 2019•Update: 06 September 2019
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Anak-anak migran yang dipisahkan dari orang tua mereka oleh pemerintahan Trump di perbatasan AS-Meksiko mengalami peningkatan trauma dan stres pasca-trauma, kata laporan pengawas pemerintah AS, Rabu.
Kantor Inspektur Jenderal Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan melaporkan bahwa anak-anak yang terpisah menunjukkan rasa takut, perasaan ditinggalkan dan stres pasca-trauma yang lebih besar daripada anak-anak yang tidak terpisah.
"Anak-anak mengalami peningkatan rasa cemas dan kehilangan sebagai akibat dari pemisahan tak terduga dari orang tua setelah kedatangan mereka," kata laporan itu.
Laporan tersebut merupakan hasil penelitian pertama yang mengungkapkan bagaimana pemisahan keluarga di bawah kebijakan "nol toleransi" oleh pemerintahan Trump berdampak pada kesehatan mental anak-anak.
"Anak-anak menunjukkan perasaan takut atau bersalah dan menjadi khawatir akan kesejahteraan orang tua mereka," kata laporan itu.
Menurut laporan tersebut, mereka yang menganggap orang tuanya pergi meninggalkan mereka menjadi marah dan kebingungan.
Seorang direktur medis mengatakan bahwa gejala fisik yang dirasakan anak-anak yang terpisah adalah manifestasi dari rasa sakit psikologis mereka dan mereka membuat pernyataan seperti "dadaku sakit," "Setiap detak jantung sakit," atau "Aku tidak bisa merasakan hatiku".
Laporan tersebut dibuat dengan mengandalkan diskusi dengan sekitar 100 dokter kesehatan jiwa yang melakukan interaksi rutin dengan anak-anak dan koordinator medis di 45 fasilitas selama Agustus dan September 2018.
Fasilitas itu dioperasikan oleh Kantor untuk Pemukiman Kembali Pengungsi (ORR), sebuah divisi di bawah Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.