Riyaz ul Khaliq
08 September 2022•Update: 12 September 2022
ISTANBUL
Ribuan orang berpartisipasi dalam operasi penyelamatan dengan menjangkau desa-desa dan daerah yang terputus aksesnya ketika jumlah korban tewas akibat gempa kuat di China bertambah menjadi 82 jiwa pada Kamis.
Otoritas China menggunakan drone, satelit, dan helikopter untuk membangun "saluran kehidupan" untuk mencapai daerah-daerah yang terputus di provinsi Sichuan yang dilanda gempa berkekuatan 6,8 pada hari Senin.
Data terbaru yang dibagikan oleh harian China Global Times menunjukkan jumlah korban tewas di wilayah yang dilanda gempa di wilayah Otonomi Tibet Garze di Sichuan meningkat menjadi 82 orang. Sementara lebih dari 250 orang ditemukan dalam keadaan terluka.
Pencarian intensif sedang dilakukan untuk menemukan warga yang hilang.
Menurut Pusat Jaringan Gempa China, gempa tersebut melanda daerah Luding di wilayah Otonomi Tibet Garze pada kedalaman 16 kilometer pada Senin sore.
Ini adalah gempa yang paling mematikan sejak gempa 2008 ketika ribuan orang tewas. Provinsi yang sama dilanda gempa kuat lainnya pada tahun 2017, yang menewaskan 25 orang.
Lebih dari 10.000 petugas penyelamat termasuk di antaranya tentara, polisi, petugas pemadam kebakaran, dan tenaga medis yang didukung oleh sembilan helikopter terlibat dalam operasi penyelamatan dan bantuan.
China menggunakan setidaknya 10 satelit untuk menemukan orang-orang di daerah yang terputus karena lebih dari 50.000 orang telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
Gempa susulan kecil mengguncang banyak daerah di sekitar Kabupaten Luding.
Gempa bumi ini merusak rumah, situs bersejarah, jalan, fasilitas air, dan pembangkit listrik tenaga air, serta mempengaruhi pasokan listrik dan telekomunikasi.
Sebuah situs bersejarah berusia 104 tahun, tempat mendiang pemimpin China Mao Zedong tinggal, juga rusak akibat gempa tersebut.