Maria Elisa Hospita
12 April 2018•Update: 13 April 2018
Anees Suheil Barghouti
RAMALLAH, Palestina
Konferensi Internasional ke-9 mengenai Kota Suci Yerusalem dimulai di kota Ramallah, Tepi Barat, pada Rabu, dan dihadiri oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Konferensi ini juga dihadiri oleh sejumlah delegasi dari negara-negara Arab dan Muslim.
Youssef Edies, Menteri Pemberdayaan Agama Palestina, menggambarkan Yerusalem sebagai “tempat kelahiran agama-agama”.
"Kita harus fokus kepada upaya Arab, Muslim, dan pihak internasional untuk melawan serangan barat yang keji ke Tanah Suci," kata dia.
Sementara itu, ketua Pembedayaan Yerusalem Munib Masri, menekankan pentingnya Yerusalem bagi umat Muslim dan Kristiani.
"Dunia harus memahami bahwa kedamaian tidak akan pernah ada sampai permasalahan Yerusalem diselesaikan dengan baik," tegas Masri.
Dia menambahkan, "Yerusalem membutuhkan inisiatif praktis dan bantuan keuangan untuk kesejahteraan rakyatnya,"
Hanna Issa, Sekretaris Jenderal Komite Muslim-Kristen Otoritas Palestina, memperingatkan bahwa lebih dari 95 persen Yerusalem telah "didoktrin" oleh Israel.
"Israel ingin mendirikan apa yang disebutnya sebagai 'Greater Jerusalem' di wilayah seluas 600 kilometer persegi, yang artinya akan menghancurkan gereja dan masjid kota," ungkap Issa.