Rhany Chairunissa Rufinaldo
21 Juni 2019•Update: 24 Juni 2019
Busra Nur Bilgic
ANKARA
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) agar pendatang yang aman diselamatkan oleh kapal kemanusiaan Sea-Watch 3 awal bulan ini.
Pada 12 Juni, Sea-Watch 3, yang dioperasikan oleh organisasi non-pemerintah Sea-Watch, menyelamatkan 53 orang, yang terdiri dari 9 wanita, 39 pria, dua balita dan tiga anak di bawah umur tanpa pendamping.
Menurut IOM, 10 migran turun di Lampedusa, Italia, karena masalah kesehatan, sementara 43 orang tetap dalam limbo di laut.
“Dalam beberapa hari terakhir, Sea-Watch 3 diundang untuk membawa migran ke Tripoli. Namun, di mata masyarakat internasional, Libya masih dianggap sebagai pelabuhan yang tidak aman untuk menurunkan migran,” kata badan PBB itu.
Menurut sebuah laporan IOM yang dirilis pekan lalu, lebih dari 24.000 migran gelap dan pengungsi tiba di Eropa melalui jalur laut sejak awal 2019.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa jumlah kematian mencapai 555 migran.
"Bagi IOM, tidak adanya pendekatan yang dipimpin oleh negara untuk mengurangi kehilangan nyawa di laut tetap menjadi keprihatinan serius, operasi penyelamatan dari organisasi non-pemerintah sengaja dihambat." kata badan migrasi PBB.
Kapten kapal Sea-Watch 3 Carola Rackete pada Rabu mengatakan Kementerian Dalam Negeri Italia baru-baru ini mengeluarkan undang-undang dekrit baru, yang melarang kapal-kapal kemanusiaan memasuki perairan teritorialnya.
"Sangat penting, hari ini lebih dari sebelumnya, bahwa Negara-negara Anggota Uni Eropa melakukan upaya bersama untuk menemukan solusi yang memadai bagi apa yang tidak dapat dianggap sebagai darurat dalam hal jumlah, tetapi sebagai darurat kemanusiaan," kata IOM.
Badan pengungsi PBB itu mengatakan sebanyak 30.510 migran meninggal dunia pada periode 2014-2018 saat melakukan perjalanan berbahaya ke Eropa.