JAKARTA
Menteri Perdagangan India tidak akan bertemu dengan sejawatnya dari Malaysia pada pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss, pekan ini, meski sedang terjadi ketegangan perdagangan antara kedua negara.
Kedua negara itu merupakan pengguna terbesar dan pemasok terbesar kepala sawit dan produk olahannya.
India berulangkali menunjukkan kekesalan dengan komentar Perdana Menteri Malaysia Mahathir yang menentang undang-undang kewarganegaraan baru yang menurut para aktivis akan mendiskriminasi umat Islam.
Malaysia, negara mayoritas Muslim, adalah penghasil dan pengekspor minyak kelapa sawit terbesar kedua. Larangan India untuk mengimpor produk olahan kelapa sawit pekan lalu dipandang sebagai pembalasan atas kritik Mahathir terhadap New Delhi.
Seorang juru bicara pemerintah Malaysia mengatakan pada Jumat bahwa menteri perdagangan dari India dan Malaysia dapat bertemu di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos.
Namun pejabat kementerian perdagangan India, mengatakan tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Piyush Goyal dari India dan Darell Leiking dari Malaysia.
"Saya dapat memberi tahu Anda, tidak ada pertemuan antara menteri Malaysia dan menteri perdagangan India di Davos," kata dia, meminta untuk tidak disebutkan namanya karena dia bukan juru bicara pemerintah.
"Sebagai bagian dari pertemuan para menteri perdagangan yang lebih besar, mereka mungkin bersama-sama, tetapi tidak ada pertemuan. Jadwal sudah selesai, dan sudah penuh. "
India pekan lalu memberlakukan pembatasan pada minyak kelapa sawit, yang menurut sebuah sumber di New Delhi yang mengetahui langsung masalah ini, dapat digunakan sebagai instrumen untuk menolak atau menunda impor dari Malaysia.
India telah menjadi pasar kelapa sawit terbesar Malaysia selama lima tahun.
Perselisihan itu membuat harga patokan perdagangan berjangka kelapa sawit Malaysia mengalami penurunan secara mingguan pada Jumat, penurunan terbesar dalam lebih dari 11 tahun.
Menteri Leiking telah mengirim pesan kepada Menteri Goyal berharap pertemuan di Davos.
Mahathir, perdana menteri tertua di dunia pada usia 94 dan salah satu pembela terbesar dunia Muslim saat ini, mengatakan dia akan terus berbicara menentang "hal-hal yang salah" bahkan jika kata-katanya merugikan negaranya secara finansial.
"Mengapa dia merugikan negaranya sendiri dengan tindakannya yang tidak menentu?" kata pejabat India itu, merujuk pada Mahathir. "Komentar yang dia buat sangat luar biasa."
Menanggapi pertanyaan tentang undang-undang kewarganegaraan baru berbasis agama di India, Mahathir mengatakan bulan lalu negara itu berusaha untuk “menghilangkan beberapa Muslim dari kewarganegaraan mereka”.
Pada sidang Majelis Umum PBB pada bulan September, dia mengatakan India telah "menyerbu dan menduduki" Kashmir, wilayah mayoritas Muslim yang disengketakan juga diklaim oleh Pakistan.
news_share_descriptionsubscription_contact

