Muhammad Abdullah Azzam
03 Juli 2019•Update: 03 Juli 2019
Hasan Esen
LONDON
Uni Eropa, Inggris, Jerman dan Prancis melalui pernyataan bersama mendesak Iran untuk menurunkan tingkat pengayaan uranium ke batas yang telah ditentukan oleh perjanjian nuklir pada 2015 lalu.
Dalam pernyataan bersama, Perwakilan Tinggi Uni Eropa urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan serta menteri luar negeri Inggris, Jerman dan Prancis mengungkapkan kekhawatiran akan produksi uranium Iran yang melewati batas.
"Kami konsisten dan jelas bahwa komitmen kami terhadap kesepakatan nuklir tergantung pada komitmen penuh Iran terhadap (kesepakatan)," tutur pernyataan tersebut.
Badan Energi Atom Internasional mengkonfirmasi pernyataan dari pihak Iran bahwa negara tersebut telah meningkatkan pengayaan uranium dan stoknya telah melebihi batas yang ditentukan.
"Kami mendesak Iran untuk mundur dari langkah ini serta menghindari langkah-langkah lain yang akan merusak perjanjian nuklir," seru pernyataan gabungan itu.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sudah mengukur jumlah pengayaan uranium Iran sejak Rabu lalu dan mereka menemukan bahwa stoknya telah meningkat hingga lebih dari 300 kilogram.
Juru bicara Badan Energi Atom Iran Behruz Kemalvendi mengatakan pada 26 Juni lalu, pihaknya akan menaikkan produksi uranium yang diperkaya usai berakhirnya masa yang diberikan kepada negara-negara Eropa pada 7 Juli mendatang.
Sebelumnya, di bawah kesepakatan nuklir, yang juga dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPoA), Iran setuju untuk memusnahkan persediaan uranium yang diperkaya menengah dan memotong persediaan uranium yang diperkaya rendah sebesar 98 persen.
Kesepakatan itu ditandatangani oleh Inggris, AS, Rusia, China, Prancis, Jerman dan Uni Eropa pada 2015.
Pada Oktober 2017, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS tidak akan lagi menjadi anggota kesepakatan dan dengan demikian menarik diri dari perjanjian.