ISTANBUL
Menjelang berakhirnya 2025, para analis konflik dan pertahanan memperingatkan bahwa tahun 2026 berpotensi diwarnai meningkatnya ketegangan geopolitik, perang yang belum terselesaikan, serta munculnya titik-titik konflik baru di berbagai kawasan dunia.
Dari perang yang masih berlangsung di Ukraina dan Sudan hingga gencatan senjata rapuh di Gaza, ditambah meningkatnya ketegangan yang melibatkan Venezuela dan Taiwan, para pakar menilai tahun mendatang tidak akan lebih stabil dibandingkan tahun yang akan ditinggalkan.
Profesor Analisis Konflik Internasional Universitas Warwick, Neophytos Loizides, mengatakan frekuensi konflik global diperkirakan akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
“Dalam beberapa tahun mendatang, kita akan melihat konflik lebih banyak dibandingkan periode mana pun dalam beberapa dekade terakhir,” ujarnya kepada Anadolu.
Menurut Loizides, risiko global saat ini tidak bersumber dari satu kawasan tertentu, melainkan dari “guncangan global yang terjadi secara bersamaan” dan semakin sulit dikelola oleh pemerintah.
Titik konflik baru
Salah satu kawasan paling rawan memasuki 2026 adalah Selat Taiwan. Ketegangan antara China dan Taiwan terus meningkat, memicu kekhawatiran akan potensi invasi China serta keterlibatan negara-negara lain di kawasan, termasuk Amerika Serikat.
China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, sementara Taipei tetap menegaskan sikapnya sejak 1949. Amerika Serikat terus mendukung pertahanan Taiwan melalui Taiwan Relations Act dan Six Assurances.
Bulan ini, Washington menyetujui penjualan senjata senilai US$11,1 miliar ke Taiwan, salah satu paket terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te mengumumkan rencana anggaran pertahanan hampir US$40 miliar, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran keamanan regional.
Loizides menyebut kesiapan militer China tidak bisa diabaikan. “Kita tahu kepemimpinan China telah memerintahkan militernya untuk siap melakukan invasi pada 2027,” katanya. Langkah tersebut, menurutnya, berpotensi memicu keterlibatan negara-negara seperti Jepang, Australia, Filipina, dan Korea Selatan, dengan dampak yang bisa menjadi bencana bagi kawasan.
Selain Asia Timur, hubungan Amerika Serikat dan Venezuela juga diperkirakan tetap tegang. Sepanjang 2025, hubungan kedua negara memburuk menyusul pemilu yang disengketakan, sanksi baru, penyitaan kapal tanker, serta pengetatan kebijakan AS terhadap ekspor minyak Venezuela.
Washington menuduh pejabat Venezuela terlibat korupsi dan perdagangan narkoba, sementara Caracas menuding AS melakukan perang ekonomi dan upaya penggulingan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Meski konfrontasi langsung dinilai lebih kecil kemungkinannya dibandingkan konflik Taiwan, Loizides menilai risiko tetap ada.
Perang yang berlarut
Beberapa konflik berskala besar diperkirakan berlanjut hingga 2026, termasuk perang di Gaza. Meski gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober, pelanggaran terus terjadi. Sejak gencatan senjata, ratusan warga Palestina dilaporkan tewas atau terluka, sementara total korban sejak Oktober 2023 melampaui 71.000 jiwa.
Loizides menilai perdamaian yang berkelanjutan sulit terwujud. Ia menyebut Israel tidak memiliki insentif kuat untuk mempertahankan kesepakatan, sementara setiap pelanggaran kecil dapat berujung pada respons militer besar.
Dosen Keamanan Internasional King’s College London, Rob Geist Pinfold, menilai konflik Gaza berpotensi berlanjut dalam bentuk konflik intensitas rendah yang berkepanjangan, karena tidak ada tanda Israel akan menarik diri atau Hamas melucuti senjata.
Di Sudan, perang saudara antara militer dan Rapid Support Forces telah memasuki tahun ketiga. Konflik yang dimulai pada April 2023 itu telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi. Hingga kini, tidak ada tanda deeskalasi yang berarti.
Sementara itu, prospek penyelesaian perang Rusia-Ukraina juga dinilai masih rapuh. Meski ada berbagai inisiatif diplomatik, termasuk proposal dari pemerintahan AS, para analis memperkirakan hasilnya lebih berupa pembekuan konflik ketimbang penyelesaian permanen.
Ketegangan di Timur Tengah
Di Timur Tengah, sejumlah konflik masih belum terselesaikan. Menurut Pinfold, Lebanon menjadi salah satu titik paling berbahaya. Meski ada gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, serangan masih terus terjadi dan Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di beberapa titik strategis di Lebanon selatan.
Ketegangan antara Israel dan Iran juga tetap tinggi setelah konflik singkat pada Juni 2025. Kedua pihak dinilai hanya berada dalam jeda sementara, tanpa penyelesaian mendasar.
Kawasan rawan lainnya
Para ahli juga menyoroti Afrika dan Asia Selatan sebagai kawasan berisiko tinggi. Konflik di Republik Demokratik Kongo bagian timur, ketegangan di Ethiopia dan Eritrea, serta konflik berkepanjangan di Sudan dinilai berpotensi kembali meletus.
Di Asia Selatan, ketegangan antara Pakistan dan India kembali meningkat pada 2025 setelah serangan mematikan di Kashmir yang dikelola India, yang berujung pada aksi militer balasan dari kedua negara.
Selain itu, sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang sempat memicu bentrokan bersenjata pada Juli 2025 juga disebut sebagai potensi konflik yang perlu diwaspadai memasuki 2026.
news_share_descriptionsubscription_contact
