Politik, Dunia

China: AS berniat picu konflik di Laut China Selatan

China mengecam AS karena ikut campur dalam masalah di luar ruang lingkupnya, setelah Washington menyebut klaim maritim Beijing tidak sah

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 14.07.2020
China: AS berniat picu konflik di Laut China Selatan Ilustrasi: Bendera China (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

Riyaz ul Khaliq

ANKARA

China menuduh Amerika Serikat menyulut ketegangan dan menghasut konfrontasi di Laut China Selatan serta mendesak Washington untuk berhenti berusaha mengganggu dan menyabot perdamaian dan stabilitas regional.

Pernyataan itu muncul setelah AS menyatakan klaim maritim China di Laut China Selatan sebagai sepenuhnya melanggar hukum.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin malam, Kedutaan Besar China di Washington menolak pernyataan AS dan menyebutnya sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Kedutaan menegaskan bahwa posisi Beijing tentang masalah ini sudah konsisten dan jelas.

Pernyataan itu juga menekankan bahwa AS lagi-lagi mencampuri masalah yang berada di luar jangkauannya.

“Amerika Serikat bukan negara yang terlibat langsung dalam perselisihan. Namun, mereka terus mengganggu dalam masalah. Dengan dalih menjaga stabilitas, AS melenturkan otot, memicu ketegangan dan menghasut konfrontasi di wilayah tersebut,” bunyi pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Xinhua. 

China mendesak AS untuk berhenti memihak pada masalah kedaulatan wilayah dan menghentikan upayanya untuk mengganggu dan menyabot perdamaian dan stabilitas regional.

Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengumumkan perubahan signifikan dalam sikap Washington terhadap sengketa maritim China, dengan mengatakan bahwa klaim Beijing atas sumber daya lepas pantai di sebagian besar Laut China Selatan tidak sah dan merupakan kampanye penindasan untuk mengendalikannya. 

"Dunia tidak akan membiarkan Beijing memperlakukan Laut China Selatan sebagai kerajaan maritimnya," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan. 

"Kami mendukung komunitas internasional dalam membela kebebasan laut dan menghormati kedaulatan serta menolak setiap dorongan untuk memaksakan pembenarannya di Laut China Selatan atau wilayah yang lebih luas," lanjut dia. 

Namun, pernyataan Kedutaan Besar China menegaskan bahwa situasi di Laut China Selatan tetap damai dan stabil dan terus membaik.

China menegaskan kembali kesediaannya untuk terlibat dalam dialog konstruktif guna melindungi kedaulatan teritorial dan hak dan kepentingan maritimnya.

Pengumuman tersebut mempertegas langkah keras dari kebijakan pemerintahan Trump sebelumnya bahwa sengketa maritim antara China dan negara-negara di Asia Tenggara diselesaikan melalui arbitrasi PBB, tidak diposisikan pada sengketa individual. 

Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Vietnam memiliki klaim perbatasan laut yang bertentangan dengan China. 

Selain berada di antara jalur pelayaran tersibuk di dunia, Laut China Selatan juga memiliki sumber cadangan gas dan minyak yang sangat besar. 

China mengklaim hampir semua lautan di bawah demarkasi sembilan garis putus (nine-dash line) dan telah membangun pulau-pulau buatan dengan instalasi militer di perairan untuk mendukung klaimnya. 

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın