Michael Gabriel Hernandez
24 September 2024•Update: 01 Oktober 2024
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Senin mengatakan bahwa pemerintahannya berupaya mengurangi ketegangan di Timur Tengah karena serangan udara Israel di Lebanon dan serangan roket balasan Hizbullah telah meningkatkan kemungkinan perang habis-habisan.
“Tim saya terus berkomunikasi dengan rekan-rekan mereka, dan kami berupaya meredakan situasi dengan cara yang memungkinkan orang-orang kembali ke rumah mereka dengan aman,” kata Biden saat menjamu Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed al-Nahyan di Gedung Putih.
Setidaknya 356 orang tewas dan 1.024 lainnya terluka, akibat serangan Israel di seluruh negeri sejak Senin pagi. Ribuan warga sipil terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
“Agresi Israel adalah rencana yang bertujuan menghancurkan desa-desa dan kota-kota Lebanon serta menghilangkan semua ruang hijau terbuka,” kata Perdana Menteri sementara Lebanon Najib Mikati.
Juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengatakan pasukannya mungkin akan menargetkan sejumlah desa Lebanon yang terletak hingga 80 kilometer dari perbatasan.
Hizbullah secara terpisah mengatakan bahwa pasukannya menembakkan puluhan roket ke Perusahaan Elektronik Rafael Israel, yang berada di utara Haifa, serta markas cadangan Korps Utara dan pangkalan logistik Formasi Galilea di kamp Ami'ad.
Ini adalah kedua kalinya Hizbullah menargetkan lokasi militer di Haifa, setelah sebelumnya menembakkan rudal ke kota itu pada Minggu.
Ketegangan meningkat antara Hizbullah dan Israel menyusul serangan udara mematikan pada Jumat yang menewaskan sedikitnya 45 orang, termasuk wanita dan anak-anak, dan melukai puluhan lainnya di pinggiran kota Beirut.
Hizbullah mengonfirmasi bahwa sedikitnya 16 anggotanya, termasuk pemimpin senior Ibrahim Aqil dan komandan tinggi Ahmed Wahbi, tewas dalam serangan udara Israel.