Maria Elisa Hospita
10 Desember 2018•Update: 11 Desember 2018
Maria Elisa Hospita
JAKARTA
Dalam rangka memperingati Hari Hak Asasi Manusia Internasional, Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (BHRN) yang berbasis di London menyerukan pada dunia untuk berefleksi dan merespons pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung di Myanmar.
Setiap 10 Desember, dunia memperingati Hari HAM Internasional untuk merayakan pengesahan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 70 tahun silam.
Menurut BHRN, dengan banyaknya masalah pelanggaran HAM, termasuk genosida Muslim Rohingya, pelanggaran hak penduduk di Kachin, dan penahanan jurnalis, dunia harus memenuhi tanggung jawab yang diembannya sejak 70 tahun lalu.
“Sementara kita merayakan pengesahan Universal Deklarasi Universal HAM PBB dan sederet prestasi yang kita raih, kita juga harus memandang tanggung jawab yang ada di depan mata kita dengan sadar dan jujur,” ujar Direktur Eksekutif BHRW Kyaw Win, pada Senin.
“Penyelesaian masalah pelanggaran HAM sangat dibutuhkan di Myanmar, khususnya bagi kaum marjinal. Kemenangan hak asasi manusia di dunia tak akan lengkap selama masalah-masalah ini tak terpecahkan,” kata dia lagi.
Kyaw Win menyayangkan bahwa sementara pelanggaran HAM di Myanmar telah meningkat drastis selama lima tahun terakhir, tetapi dunia justru lambat untuk merespons.
BHRN adalah organisasi advokasi yang memperjuangkan hak asasi manusia, hak minoritas, dan kebebasan beragama di Myanmar.