Rhany Chairunissa Rufinaldo
10 Juli 2019•Update: 11 Juli 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Amerika Serikat dan Qatar pada Selasa menandatangani kesepakatan bisnis besar yang mencakup sektor energi, aviasi dan pertahanan.
Presiden Donald Trump dan Emir Qatar Tamim Bin Hamad Al-Thani mengesahkan kesepakatan itu dalam upacara penandatanganan di Gedung Putih.
Perjanjian tersebut termasuk pembelian lima kargo Boeing 777 dari Qatar Airways dan komitmen tambahan untuk membeli sejumlah pesawat kabin besar tambahan Gulfstream.
Maskapai milik Qatar lebih lanjut berkomitmen untuk menggunakan mesin dan layanan jet General Electric untuk memberi daya pada armada Boeing 787 dan 777.
Chevron-Phillips sepakat dengan Qatar Petroleum untuk bersama-sama mengembangkan dan mengoperasikan kompleks petrokimia di Qatar, menurut pernyataan bersama yang diberikan oleh Gedung Putih yang menguraikan kesepakatan.
Kementerian Pertahanan Qatar juga berkomitmen untuk membeli sistem pertahanan jarak menengah-ke-panjang produksi Raytheon NASAM dan sistem rudal darat-ke-udara jarak jauh Patriot.
Angka pasti untuk kesepakatan itu tidak dijelaskan, tetapi al-Thani sebelumnya mengatakan bahwa AS dan Qatar berusaha untuk menggandakan volume perdagangan mereka yang sebelumnya berjumlah USD185 miliar, di mana akan mencakup peningkatan investasi infrastruktur dari Doha.
Penjabat Menteri Pertahanan Mark Esper dan al-Thani sebelumnya membahas sejumlah masalah di Pentagon termasuk pentingnya pembagian beban, dukungan Qatar untuk misi NATO di Afghanistan dan keretakan Teluk
"Menteri Esper berterima kasih kepada Emir atas tawaran Qatar untuk meningkatkan Pangkalan Udara Al-Udeid dan untuk menampung pasukan AS," kata juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman dalam sebuah pernyataan, merujuk pada pangkalan udara luas yang digunakan AS untuk operasi regionalnya.