17 Juli 2017•Update: 18 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Kedekatan Qatar dengan organisasi pergerakan Ikhwanul Muslimin bermula melalui jalur pendidikan.
Peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nostalgiawan Wahyudhi mengatakan sejak tahun 1954, atas rekomendasi dari ulama Kairo, Qatar telah mengundang Sheikh Abdul Baqi al-Saqr yang merupakan aktifis IM untuk menduduki jabatan Kepala Perpustakaan Nasional Qatar.
“Meskipun di tahun 1956-1957 ketika Qatar melakukan reformasi portfolio pendidikan, dia didepak dari jabatannya karena Sheikh Khalifa bin Hamad al-Thani mengendus dominasi IM yang meningkat dalam sistem pendidikan Qatar,” jelasnya di Jakarta, Sabtu (15/7).
Tetapi, kejadian itu tidak menghentikan Qatar untuk merekrut tenaga pengajar berlatar belakang IM dari Kairo. Melalui Sheikh Abdullah ibn Sukri al-Subai, Kepala Studi Islam di Kementerian Pendidikan, didatangkanlah Sheikh Ahmed al-Assal di tahun 1960 untuk mengajar di sekolah-sekolah, masjid, dan kajian Islam di Qatar.
“Selain itu, ada Sheikh Abdel al-Mu’iz al-Sattar yang merupakan orang kepercayaan Hasan al-Banna untuk Palestina. Dia diberi kedudukan menjadi pengawas pendidikan, lalu menduduki posisi prestisius sebagai direktur studi Islam di Kementerian Pendidikan yang menerbitkan beberapa buku panduan sistem pendidikan di Qatar.”
Posisi tersebut dilanjutkan oleh Sheikh Kemal Naji yang kemudian menjadi kepala komite publikasi dan penasehat kerja sama luar negeri di bidang kebudayaan di Kementerian Pendidikan Qatar. “Ketika itu sistem pendidikan di Qatar masih informal, sangat tradisional dan bergantung pada pengaruh personalitas.”
Qatar menginduk pada model pendidikan di Kairo yang memiliki pendidikan tinggi ikonik seperti Universitas Al-Azhar dengan mengesampingkan pengaruh IM dalam negaranya dan dianggap sebagai yang logis bagi Qatar.
“Karena itu sangat dimungkinkan bahwa masuknya personal-personal IM di Qatar merupakan suatu paket yang tidak bisa ditolak karena saat itu IM memang menguasai sektor pendidikan di Mesir.”
Akan tetapi, Nostalgiawan melihat bahwa kehadiran ulama IM dan perannya di dunia pendidikan di Qatar tidak dapat memengaruhi masyarakat Qatar secara ideologis dan gerakkan.