Rhany Chairunissa Rufinaldo
17 Juni 2020•Update: 17 Juni 2020
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Kelly Craft meminta rezim Suriah Bashar al-Assad Selasa untuk membuat pilihan antara solusi politik untuk konflik Suriah atau sanksi oleh Washington.
"Rezim Assad memiliki pilihan yang jelas: menempuh jalur politik yang ditetapkan dalam Resolusi 2254, atau meninggalkan Amerika Serikat tanpa pilihan lain selain terus menahan pendanaan rekonstruksi dan menjatuhkan sanksi terhadap rezim dan pendukung keuangannya," kata Craft saat pertemuan virtual PBB.
Dia mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump akan mengambil langkah tegas untuk mencegah rezim Assad meraih kemenangan militer, merujuk pada Undang-Undang Caesar Perlindungan Sipil Suriah tahun 2019, yang mulai berlaku Rabu.
Trump menandatangani RUU tersebut menjadi undang-undang pada Desember, yang mengesahkan sanksi tambahan dan pembatasan keuangan pada institusi dan individu yang melakukan bisnis dengan rezim Suriah.
Dalam sambutannya, duta besar menegaskan kembali seruan Washington untuk rezim Assad untuk segera membebaskan ribuan warga sipil yang telah ditahan di Suriah.
"Mempertahankan gencatan senjata yang luas di barat laut Suriah sangat penting untuk pencapaian solusi politik dalam konflik ini, dan sangat penting untuk pekerjaan Utusan Khusus dan implementasi penuh Resolusi 2254," ujar Craft.
Menurut dia, AS akan terus menolak segala upaya rezim Assad dan sekutunya untuk menggunakan kekuatan militer, penghalang, atau informasi yang salah untuk mencegat upaya PBB memulihkan perdamaian di Suriah.
Dia juga menyambut baik kesepakatan antara oposisi dan rezim untuk mengadakan Komite Konstitusi pada Agustus.
Suriah telah terkurung dalam perang saudara yang ganas sejak awal 2011, ketika rezim Assad menindak protes pro-demokrasi dengan kekerasan yang brutal.
Sejak itu, menurut PBB, ratusan ribu orang telah terbunuh dan lebih dari 10 juta lainnya mengungsi.