Maria Elisa Hospita
13 November 2018•Update: 13 November 2018
Hassan Isilow
JOHANNESBURG
Negara Palestina masih menjadi prioritas diplomasi internasional Afrika Selatan saat ini.
"Kami meyakini bahwa rakyat Palestina suatu hari akan dapat menikmati kemerdekaan mereka," kata Menteri Hubungan Internasional dan Kerja Sama Afrika Selatan Lindiwe Sisulu, di Pretoria, Senin.
Lindiwe Sisulu mengatakan bahwa pemerintah Afrika Selatan akan terus mengkampanyekan kemerdekaan Palestina di bawah solusi dua negara.
Pada Senin, Sisulu turut memperingati kematian pemimpin Palestina, Yasser Arafat. Dia dimakamkan pada 12 November 2004 di Ramallah.
"Empat belas tahun setelah kematiannya, orang-orang Palestina masih belum mencapai kemerdekaannya," ujar Sisulu.
Arafat memiliki hubungan dekat dengan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela. Afrika Selatan menjalin hubungan diplomatik dengan Palestina pada 1995, setahun setelah berakhirnya sistem pemerintahan apartheid.
Selama ini pemerintah Afrika Selatan mengkritisi perlakuan Israel terhadap Palestina, termasuk kebijakan permukiman dan perluasan yang sedang berlangsung di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki.
Pada Mei, Pretoria memanggil duta besarnya dari Tel Aviv setelah lebih dari 50 orang Palestina tewas akibat serangan pasukan Israel selama aksi protes menentang pembukaan Kedutaan Besar AS di Yerusalem.
Dalam pengumumannya, Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan mengecam serangan Israel dan menyebutnya "keji".
Mayoritas warga Afrika Selatan juga mendukung perjuangan Palestina, karena mereka pun pernah menderita di bawah pemerintahan apartheid.