Adel Abdel-Rahim
23 Mei 2023•Update: 26 Mei 2023
KHARTOUM, Sudan
Setidaknya 863 warga sipil tewas dalam bentrokan antara tentara Sudan dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF), menurut petugas medis setempat pada Senin.
Dalam sebuah pernyataan, LSM Sindikat Dokter Sudan mengatakan bahwa 3.531 orang juga terluka selama insiden kekerasan sejak 15 April.
LSM tersebut mengatakan bahwa 28 warga sipil tewas dalam bentrokan antara dua rival militer di kota Nyala, ibu kota provinsi Darfur Selatan, dalam beberapa hari terakhir.
Gencatan senjata selama 7 hari mulai berlaku antara tentara dan RSF pada Senin setelah pembicaraan antara dua pihak di Arab Saudi.
Ketidaksepakatan telah muncul dalam beberapa bulan terakhir antara tentara dan RSF atas integrasi kelompok paramiliter ke dalam angkatan bersenjata, syarat utama dari perjanjian transisi Sudan dengan kelompok-kelompok politik.
Sudan tidak memiliki pemerintahan sejak Oktober 2021, ketika militer membubarkan pemerintahan transisi Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan menyatakan keadaan darurat dalam sebuah langkah yang dikecam oleh kekuatan politik sebagai "kudeta".
Masa transisi Sudan, yang dimulai pada Agustus 2019 setelah penggulingan Presiden Omar al-Bashir, dijadwalkan berakhir dengan pemilu pada awal 2024.