26 Desember 2017•Update: 27 Desember 2017
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan komitmen Turki untuk terus mendukung Sudan dalam kunjungan resminya ke Sudan, Senin.
Erdogan memberikan pernyataan tersebut dalam pidatonya di Universitas Khartoum di ibu kota Sudan.
Setelah penyerahan gelar doktor kehormatan untuknya, Erdogan mengatakan bahwa Turki akan terus bersama rakyat Sudan melalui institusi dan organisasinya.
Presiden Turki mengatakan, dia secara khusus telah meminta Presiden Sudan Omar al-Bashir untuk mengizinkan Turki memugar artefak di kota pelabuhan Suakin.
"Ada masjid Hanafi dan Syafi'i, yang dipugar oleh TIKA [Badan Kerja Sama dan Pembangunan Turki) disana," kata dia.
Erdogan menyalahkan Barat atas "kehancuran" Suakin.
"Ini adalah karakteristik dari Barat [...]", kata Erdogan, menambahkan bahwa dia akan lebih dari senang karena Turki akan memugar dan merenovasi tempat-tempat itu.
Suakin adalah salah satu pelabuhan tertua di Afrika yang digunakan oleh Muslim Afrika untuk berziarah ke Arab Saudi.
Ottoman menggunakan kota pelabuhan tersebut untuk mengamankan provinsi Hejaz –sekarang barat Arab Saudi- dari penyerang yang menggunakan front Laut Merah.
Erdogan juga menyatakan bahwa Turki dan Sudan juga dapat bekerja sama dan mengambil langkah-langkah baru dalam bidang pariwisata.
Balik ke masa lalu, Erdogan mengatakan, dulunya masyarakat pergi ke Jeddah untuk melakukan ibadah umrah di Mekah melalui Sudan.
"Jalan-jalan itu harus kembali dibangun, kita harus merenovasinya," kata Erdogan
Universitas Sudan-Turki
Erdogan selanjutnya menyatakan bahwa masa depan akan menjadi milik benua Afrika sebelum akhir abad ini.
"Selama kita berdiri bersama, kita berusaha dan tidak tunduk, seperti tidak tunduknya kita dalam permasalahan Yerusalem," tambah dia.
Ketegangan di wilayah Palestina meningkat sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember lalu. Pernyataan tersebut menuai protes dan kecaman dari seluruh dunia Arab dan Muslim.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan pejabat tinggi Turki lainnya tetap berada di garis depan oposisi internasional dalam menentang langkah AS tersebut.
Kamis lalu, Majelis Umum PBB menyetujui sebuah resolusi -dengan 128 suara dukungan dan 9 suara menolak– yang meminta Trump untuk menarik keputusan tersebut.
Erdogan mengatakan, dunia Islam sekali lagi ingin dipecah dan dipisah, dengan perbedaan mazhab dan perpecahan etnis yang dibuat semakin menjadi-jadi dan dengan membuat orang-orang yang berbagi tanah yang sama selama berabad-abad bertikai seperti yang terjadi di beberapa negara di Afrika.
Mengutip seorang penulis Irlandia yang mengatakan, "Imperialis yang mengendus minyak lebih berbahaya daripada hiu yang mengendus darah", "Mereka menggunakan organisasi teroris seperti Daesh, PKK, PYD sebagai subkontraktor untuk mencapai tujuan mereka," kata Erdogan.
Erdogan juga mengatakan bahwa saat ini ada sekitar 800 siswa belajar bahasa Turki di Pusat Kebudayaan Turki Yunus Emre di Khartoum.
Selain itu, tambah Erdogan, sebuah jurusan bahasa Turki juga akan dibuka di Universitas Khartoum.
Erdogan mengatakan bahwa Turki dan Sudan akan mengerjakan proyek lain untuk mendirikan Universitas Sudan-Turki.
Kunjungan Erdogan adalah kunjungan pertama seorang presiden Turki ke Sudan, Ia disambut oleh Presiden Sudan.
Presiden Sudan mengatakan bahwa kunjungan ini akan meningkatkan hubungan antara kedua negara.