Adham Kako
11 Januari 2018•Update: 12 Januari 2018
Sebanyak 40 warga sipil di Ghouta Timur tewas akibat pasukan rezim Assad yang mengintensifkan serangan mereka di wilayah yang terkepung tersebut dalam dua hari terakhir.
Menurut informasi yang diperoleh koresponden AA di Ghouta Timur, Pasukan rezim Assad mengintesifkan serangan ke distrik Douma dan Haresta serta daerah Arbin, Sakba, Madyara, Ein Tarma, Beit Sava, Hammuriya , Marj dan Sakba.
Menurut Sumber Pertahanan Sipil (White Helmets), satu orang di Arbin dan satu lainnya di Madyara tewas dalam serangan bombardir yang terjadi pada Rabu.
Tim Pertahanan Sipil mengumumkan bahwa jumlah warga sipil yang terbunuh dalam serangan udara pasukan rezim di distrik Hammuriya pada Selasa meningkat menjadi 25 orang.
Selain itu, serangan udara rezim pada Selasa dilaporkan menewaskan tiga warga sipil di Sakba, satu di Haresta, satu di Arbin dan satu di Madyara sementara serangan di Douma menewaskan tujuh warga sipil.
Dengan begitu, jumlah warga sipil yang tewas dalam dua hari terakhir meningkat menjadi 40 orang.
Tim Pertahanan Sipil juga dilaporkan berhasil menyelamatkan banyak warga sipil dari reruntuhan bangunan, korban luka telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
Jumlah korban tewas dikhawatirkan bertambah karena serangan udara yang berturut-turut.
Tim Pertahanan Sipil melalui media sosial melaporkan, serangan rezim Assad dan Rusia menewaskan 161 warga sipil dalam 13 hari terakhir.
Sebelumnya, tim Pertahanan Sipil juga melaporkan serangan-serangan rezim Assad ke Ghouta Timur selama 2017 menewaskan 1.337 orang termasuk 12 anggota Pertahanan Sipil.
Ghouta Timur yang terletak di pinggiran kota Damaskus merupakan rumah bagi sekitar 400.000 penduduk yang setengahnya merupakan anak-anak.
Sejak akhir 2012, distrik tersebut masih berada di bawah kepungan rezim Assad. Ia juga termasuk dalam zona de-eskalasi - yang didukung oleh Turki, Rusia, dan Iran - di mana tindakan agresi dilarang keras.
Meski begitu, rezim semakin memperketat blokade Ghouta Timur dalam 9 bulan terakhir.
Sebanyak 1.000 orang, sekitar 600 di antaranya dalam keadaan darurat di Ghouta Timur perlu mendapatkan pengobatan medis.
Sejumlah bayi dan anak juga meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan obat.