Hayati Nupus
21 September 2020•Update: 22 September 2020
JAKARTA
Pasir putih buatan terhampar di sepanjang 500 meter garis pantai di Manila, ibukota Filipina, di tengah tentangan para aktivis lingkungan.
Mulanya, perairan di Teluk Manila itu tercemar oleh minyak dan sampah dari pemukiman dan pelabuhan terdekat.
Dengan pasir buatan hasil produksi berton-ton batu dolomit yang dihancurkan dari Filipina tengah itu, Duterte mengubah pantai yang mulanya buruk menjadi indah.
Mengkritik hal itu, presiden kelompok nelayan Pamalakaya Fernando Hicap mengatakan bahwa upaya itu hanya sebatas pada estetika, tak terkait dengan rehabilitasi pantai sama sekali.
“Masih banyak sampah,” kata dia, kutip Channel News Asia.
Tetap saja, lanjut dia, polusi sampah itu membunuh stok ikan di teluk.
Sementara Walikota Manila Francisco Domagoso yakin bahwa proyek estetis itu tak akan menjadi ancaman bagi kesejahteraan penduduk.
“Ini sesuatu yagn menyenangkan dan jika itu kemajuan untuk kota, kita harus selalu mendukungnya,” ujar Domagoso pada saat pembukaan pantai.