Hader Glang
ZAMBOANGA, Filipina
Seorang warga Filipina yang dituduh merencanakan serangan teror di Manhattan, New York, adalah seorang dokter yang pernah berlatih di Marawi.
Russel Salic, 37 tahun, adalah seorang ahli bedah ortopedi yang biasa bekerja di Amai Pakpak Medical Center di Kota Marawi, menurut Rappler yang mengutip laporan dari pemerintah Filipina dan Amerika Serikat.
Salic yang berasal dari wilayah dekat Marantao juga dituduh atas tuduhan penculikan dan pembunuhan, berdasar keterangan dari beberapa pekerja di wilayah Iligan City yang diculik oleh Maute Group di Butig, Lanao del Norte, pada April 2016.
Jaksa mendakwa Salic telah melakukan pembunuhan dan penculikan beberapa pekerja, dua diantaranya dilaporkan dipenggal.
Jaksa mengidentifikasi Salic sebagai pihak yang dilaporkan menahan mereka, dan dinyatakan bahwa mereka melihat dia berbicara dengan anggota keluarga Maute.
Salic membantah tuduhan tersebut selama penyelidikan awal oleh Departemen Kehakiman pada Agustus. Dia juga dikaitkan dengan kelompok Maute yang berbasis di Marawi dan menyerah kepada pihak berwenang pada April 2017.
Pihak berwenang mengatakan Salic dan dua tersangka lainnya telah didakwa merencanakan untuk melakukan serangan atas nama Daesh selama bulan Ramadan tahun lalu.
Dia dicurigai oleh Panglima Militer Filipina Jenderal Eduardo Ano terlibat dalam aktivitas terorisme dengan memberikan dana dan donasi kepada tersangka terorisme di Timur Tengah, Amerika Serikat dan Malaysia dari 2014 hingga 2016.
“Dia (Salic) telah dipantau dan diawasi karena aktivitasnya yang mencurigakan dengan berkoordinasi dengan badan intelijen luar negeri,” ucap Ano.
Seorang pengacara Mindanau, Abdul Jamal Dimaporo, Badan Investigasi Nasional (NBI) di Iligan City, mengatakan Amerika Serikat berkoordinasi dengan NBI pada Januari untuk mencari Salic yang bersembunyi, pada akhirnya menyerah pada pihak berwenang di bulan April.
Salic didakwa karena membantu secara finansial dalam merencakan serangan yang menyasar Times Square, kereta bawah tanah dan tempat konser di New York, mengacu pada Kejaksaan Federal.
Otoritas Amerika Serikat mengatakan pada Jumat bahwa Salic telah mengirim “sekitar $ 423” untuk mendanai serangan, dan berjanji untuk mengirim lagi dengan jumlah yang lebih besar, The Inquirer melaporkan.
Amerika Serikat meminta Filipina untuk mengekstradisi Salic, yang dituduh bersamaan dengan dua tersangka teroris lainnya.
Sebelumnya, Kepala Penasihat Negara Ricardo Paras mengatakan pengadilan di Manila mempertimbangkan permintaan pemerintah Amerika Serikat mengacu pada tuduhan baru yang diumumkan.
Salic masih berada di dalam tahanan di Filipina karena kejahatan yang dilakukan oleh kelompok Maute yang telah berhadapan dengan tentara Filipina di Marawi lebih dari 4 bulan.
Sementara itu, sebuah pernyataan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Manila menyatakan Salic mengirim uang kepada tersangka lainnya untuk sebuah operasi, dia dapat melakukannya secara aman dari Filipina tanpa menarik perhatian.
Pihak militer mengatakan 60 sandera masih ditahan oleh kelompok Maute dan tentara Filipina telah diizinkan untuk menarget para sandera yang dipaksa untuk membawa senjata oleh kelompok teroris yang bersembunyi di Marawi untuk melindungi diri mereka sendiri.
Kelompok teroris lokal, termasuk Kelompok Abu Sayyaf dipimpin oleh Isnilon Hapilon –menyerang Kota Marawi pada 23 Mei, mendorong Presiden Rodrigo Duterte mendeklarasikan Martial Law di Mindanao.
news_share_descriptionsubscription_contact

