ISTANBUL
Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) tidak akan menjamu menteri luar negeri Myanmar pada KTT Menteri Luar Negeri ke-55 dan pertemuan terkait yang dijadwalkan akhir bulan ini.
Ini adalah kedua kalinya menlu Myanmar yang dipilih junta militer dikecualikan oleh ASEAN untuk menghadiri forum tertinggi kedua di blok itu setelah pemerintah sipil negara itu digulingkan dalam kudeta militer pada Februari tahun lalu.
Prak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Kamboja, mengatakan dia menjelaskan dalam sebuah surat kepada Menlu Myanmar U Wunna Maung Lwin bahwa “sebagai Ketua ASEAN dan dengan konsensus dari rekan-rekan ASEAN lainnya jika tidak akan lagi memajukan implementasi Lima Poin Konsensus (5PC).”
Sebaliknya, kata dia, ASEAN hanya akan mengundang “perwakilan non-politik” Myanmar untuk menghadiri pertemuan tersebut.
Sokhonn pada Rabu memberi pengarahan kepada korps diplomatik asing dan media guna membahas perjalanan keduanya yang berakhir pekan lalu ke Myanmar.
KTT ASEAN mendatang dijadwalkan berlangsung dari 30 Juli hingga 6 Agustus.
Kamboja adalah ketua ASEAN saat ini dan sebagai utusan khusus ketua, Sokhonn melakukan dua perjalanan ke negara berpenduduk mayoritas Buddha itu tetapi tidak diizinkan untuk bertemu dengan Liga Nasional untuk Demokrasi yang digulingkan Aung San Suu Kyi.
Sokhonn juga mengatakan dia mengundang Menlu Rusia Lavrov untuk menghadiri Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri Asia Timur ke-12 dan Forum Regional ASEAN ke-29 di Kamboja.
Selain 10 negara anggota ASEAN, perwakilan dari 17 negara lain antara lain Australia, Kanada, China, Uni Eropa, India, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, Rusia, AS, Bangladesh, Korea Utara, Mongolia, Pakistan, Sri Lanka, dan Timor-Leste, dan Papua Nugini akan menghadiri pertemuan terkait di Kamboja.