Chandni
07 November 2017•Update: 08 November 2017
ZAMBOANGA CITY, Filipina (AA) – Sembilan orang militan tewas dalam bentrokan dengan militer di Marawi pada Minggu, setelah perang resmi dikatakan sudah berakhir.
Kol. Romeo Brawner Jr., wakil komandan Pasukan Gabungan Ranao, pada Senin mengatakan salah satu "militan tersisa" yang tewas adalah Ibrahim Maute alias Abu Jamil, sepupu dari kakak beradik Maute yang pertama menyerang Marawi.
Brawner mengatakan para militan menyerang pasukan Filipina yang sedang menyapu zona perang. Bentrokan itu berakhir dengan tewasnya sejumlah teroris.
"Militer memperingatkan warga bahwa zona perang utama masih berbahaya karena adanya militan yang tersisa," kata Brawner seperti yang dikutip GMA News.
Kepala polisi Ronald Dela Rosa sebelumnya mengatakan Daesh memilih ahli bom asal Malaysia Amin Baco sebagai utusan mereka di Asia Tenggara. Baco diperkirakan masih berada di zona perang Marawi.
"Ini bukan untuk merendahkan dia tapi dia tidak lagi bisa menggalang pasukan seperti yang dilakukan [mantan pemimpin Abu Sayyaf Isnilon] Hapilon," kata Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana.
Namun pihak militer bersikeras Baco sudah tewas di pertempuran dan kelompok teroris sekarang "tanpa pemimpin dan tanpa arah".
"Amin Baco diyakini tewas di Marawi tidak lama ini. Jasadnya masih diselidiki," kata juru bicara militer Mayjen Restituto Padilla.
Selain itu, militer juga memburu seorang teroris asal Indonesia bernama Mahalan dan Abdullah Hapilon, putra mantan "emir" Daesh di Asia Tenggara.
Lebih dari 300.000 penduduk Marawi yang mengungsi ketika perang dimulai 23 Mei silam belum boleh pulang. Marawi, serta seluruh pulau Mindanao, juga masih dalam keadaan darurat militer hingga akhir tahun.