Nicky Aulia Widadio
29 Juli 2019•Update: 30 Juli 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengatakan tumpahan minyak di perairan Karawang menyebabkan tambak-tambak di Karawang dan Bekasi gagal panen dan kehidupan nelayan pesisir terganggu.
Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat Meiki Paendong mengatakan tumpahan minyak juga menyebabkan penutupan pantai pariwisata di Karawang.
Tumpah minyak itu berasal dari sumur lepas pantai blok Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina Hulu Energi sejak 12 Juli 2019. Pertamina mengindikasi tumpahan minyak itu berasal dari sekitar anjungan YY.
Walhi mendesak agar Pertamina mengaudit prosedur kerja dan peralatan di lokasi lain blok ONWJ seperti di anjungan Echo, Bravo, Mike dan Zulu.
Menurut Meiki, warga dan nelayan yang terdampak oleh tumpahan minyak juga belum mendapat informasi yang cukup akan dampak dan sampai kapan tumpahan minyak ini akan memengaruhi aktivitas mereka.
Selain itu, masyarakat juga tidak mendapat informasi tentang bagaimana menangani dampak pencemaran ini sesuai standar keselamatan dan kesehatan.
Padahal, kata Meiki, pencemaran ini telah memengaruhi sumber-sumber kehidupan mereka.
“Pertamina harus tuntas dalam melakukan upaya pemulihan ekosistem laut, pantai, dan mangrove yang terkena dampak tumpahan minyak,” kata Meiki melalui keterangan tertulis, Senin.
Menurut catatan Walhi hingga 18 Juli 2019, tumpahan minyak tersebut telah mencemari 45,37 kilometer persegi laut di utara Jawa.
Luasan laut yang tercemar dikhawatirkan masih terus bertambah karena sumber pencemarannya masih belum teratasi.
Ada empat desa yang disebut terdampak tumpahan minyak itu yakni Desa Pusaka Jaya, Desa Cemara Jaya, Desa Pasir Jaya, dan Desa Sungai Buntu.
Laporan terakhir dari masyarakat mengatakan pencemaran minyak telah sampai ke Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu akibat dorongan angin ke arah barat.
Direktur Eksekutif Walhi DKI Jakarta Tubagus Achmad mengkhawatirkan pencemaran tersebut bisa berdampak pada kehidupan nelayan dan pariwisata di Kepulauan Seribu yang selama ini bergantung pada kondisi laut.
“Sudah ada beberapa laporan nelayan tumpahan minyak sudah mencapai bagian timur Kepulauan Seribu,” kata Tubagus.
Pertamina sampai saat ini masih menangani kebocoran minyak dan gas tersebut dengan mengerahkan lima unit Giant Octopus Skimmer dan membentang 5x400 meter Static Oil Boom.
Static Oil Boom berfungsi menahan penyebaran minyak yang tumpah, sedangkan Giant Octopus Skimmer untuk mengangkat tumpahan minyak yang tertuang di Static Oil Boom.