Hayati Nupus
15 Juli 2019•Update: 15 Juli 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengungkapkan penanganan darurat karena gempa M 7,2 yang mengguncang Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara, terkendala karena akses jalan menuju lokasi belum terbangun.
Plh. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan akses yang tersedia hanya lewat dua rute laut. Pertama melalui Ternate-Sofifi dengan kapal cepat dan berlanjut ke Saketa dengan jalur darat.
“Sedang rute Ternate-Labuha dapat dilewati dengan pesawat atau kapal ferry dan berlanjut menuju Saketa dengan jarak tempuh 5 jam menggunakan kapal cepat,” ujar Agus dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Hingga Senin pukul 07.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi 65 kali gempa susulan, 28 di antaranya terasa.
“Masyarakat yang tinggal di pesisir masih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi,” tambah Agus.
Gempa bumi berkekuatan M 7,2 mengguncang Halmahera Selatan pada Minggu pukul 16.10 WIB.
BMKG mengungkapkan pusat gempa berada di darat kedalaman 10 km, berjarak 62 km timur laut Labuha, Maluku Utara.
Gempa yang terasa 2-5 detik itu terjadi akibat aktivitas sesar aktif Sorong-Bacan yang tersusun oleh batuan vulkanik dan sedimen yang mudah terlepas.
Bupati Halmahera Selatan menetapkan status Tanggap Darurat sepanjang 15-21 Juli 2019.