26 Juli 2017•Update: 26 Juli 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan status siaga terhadap 5 provinsi langganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kelima provinsi tersebut yaitu Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
“Untuk mengantisipasi Karhutla dan memudahkan penanggulangan bencana asap,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Rabu, dalam rilisnya.
Sebaran titik panas akibat Karhutla terus meningkat. Berdasarkan hasil pantauan satelit Aqua, Terra, SNNP LAPAN, terpantau 150 titik panas pada Minggu (23/7), 170 titik panas pada Senin dan meningkat menjadi 179 titik panas pada Selasa.
“Peningkatan hotspot ini seiring dengan cuaca yang makin kering sehingga hutan dan lahan mudah dibakar. Jumlah hotspot ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2015,” kata Sutopo.
Sepanjang 2017 ini saja, seluas 548,72 hektar hutan dan lahan di Riau terbakar. Selasa kemarin, Satgas terpadu berhasil memadamkan Karhutla di Desa Pauh, Kabupaten Rohul seluas 4 hektar, dan di Desa Buluh Manis, Kota Dumai seluas 10 hektar.
Sementara sepanjang Rabu pagi hingga siang, asap dari Karhutla di Aceh Barat mengakibatkan menurunnya jarak pandang. Sejumlah 69 hektar lahan di Aceh Barat terbakar. Yaitu di Kecamatan Woyla, Kecamatan Meureubo, Kecamatan Sama Tiga, Kecamatan Johan Pahlawan, dan Kecamatan Arongan Lambalek.
Pemerintah sudah membentuk Satgas terpadu di masing-masing provinsi. terdiri dari Satgas darat, Satgas udara, Satgas pelayanan kesehatan, Satgas penegakan hokum dan Satgas sosialisasi. Namun luas wilayah dan sarana prasarana terbatas menyebabkan Karhutla masih terjadi di beberapa daerah.
“Masyarakat dan semua unsur masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan. Cuaca makin kering sehingga mudah memicu Karhutla. Sebagian besar penyebab karhutla adalah kesengajaan untuk membuka lahan,” ujar Sutopo.