İqbal Musyaffa
15 Mei 2018•Update: 16 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Wiqoya, istri terduga teroris Budi Satrio, yang ditembak mati oleh Densus 88 di Sidoarjo, Jawa Timur, adalah pegawai negeri sipil di Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur.
“Memang betul terkonfirmasi. Informasi kami dapatkan dari kanwil Kemenag Jatim dan sejumlah aparat inspektoran jenderal yang kami terjunkan ke sana,” ungkap Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.
"Jadi memang betul yang bersangkutan adalah istri dari yang diduga teroris itu dan kami sedang melakukan komunikasi terus dengan aparat penegak hukum,” ungkap Menteri Lukman, yang juga menyatakan bahwa jumlah satuan kerja yang ada di kementeriannya merupakan yang terbanyak dibanding kementerian dan lembaga lain sehingga pengawasan terhadap kegiatan di luar kantor masing-masing Aparat Sipil Negara (ASN) tidak memungkinkan.
“ASN di Kemenag tidak kurang dari 220 ribu orang. Dengan banyaknya ASN, tentu kemampuan kami untuk betul-betul mengetahui setiap aktivitas ASN terbatas,” tambah dia.
Menteri Lukman mengakui, hal ini menjadi pelajaran bagi kementariannya untuk lebih ketat meningkatkan kewaspadaan, dan bahwa seluruh ASN dan keluarganya harus sesuai sumpah dan janji saat dilantik, juga menaati undang-undang ASN.
“Karenanya kami di Kemenag akan tegas memberikan sanksi kepada seluruh ASN kita ketika melanggar hukum, sumpah, dan regulasi. Khususnya aturan ASN,” tambah dia.
Terduga teroris Budi Satrio ditembak tim Densus 88 di rumahnya di kompleks Perumahan Puri Maharani, Desa Masangan Wetan, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin.
Kejadian tersebut diketahui warga sekitar pukul 07.30 WIB ketika dari arah rumah terduga teroris terdengar bunyi tembakan dua kali. Budi sudah menempati rumah tersebut sejak 2006, bersama istrinya, Wiqoya.