Nicky Aulia Widadio
28 Juli 2020•Update: 29 Juli 2020
JAKARTA
Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan telah terjadi peningkatan kasus infeksi Covid-19 di wilayah perkantoran.
“Memang terjadi peningkatan kasus di wilayah perkantoran, namun datanya masih perlu di-update dan diverifikasi,” kata Wiku kepada Anadolu Agency, Selasa.
Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat setidaknya ada total 440 kasus dari 68 klaster di perkantoran hingga Senin malam.
Menurut Dinas Kesehatan, pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) atau sebelum 4 Juni 2020 hanya ada 43 kasus positif Covid-19.
Setelah pemerintah melonggarkan PSBB dan mengizinkan perkantoran beraktivitas, telah ditemukan 397 kasus baru.
Kasus perkantoran terbanyak ditemukan di kantor PT Antam, yakni 68 kasus, kemudian di Kementerian Keuangan sebanyak 25 kasus, Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Jakarta Utara sebanyak 23 kasus, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebanyak 22 kasus.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta Andri Yansyah meminta setiap perusahaan membentuk Gugus Tugas Covid-19 internal untuk memaksimalkan peran pengawasan dan pencegahan penularan Covid-19.
Dengan adanya Gugus Tugas, Andri menuturkan setidaknya akan ada pihak yang mengawasi dan mengingatkan karyawan untuk menjalankan protokol kesehatan secara disiplin.
“Kalau mengandalkan kita (pemerintah) saja, itu tidak akan efektif. Jumlah kita dengan jumlah perusahaan di Jakarta sangat tidak sebanding,” kata Andri ketika dihubungi.
--Protokol kesehatan dan sirkulasi udara
Pakar epidemiologi dari Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani mengatakan kantor berisiko menjadi tempat penularan karena rata-rata berupa ruang tertutup yang mengandalkan pendingin udara.
Apalagi sejumlah peneliti telah menyampaikan data ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait dugaan bawah Covid-19 bisa menular melalui microdroplets yang melayang di udara.
Microdroplet bisa bertahan lebih lama di satu ruangan manakala sirkulasi udara di ruangan itu tidak berjalan dengan baik.
“Penggunaan AC sebisa mungkin dikurangi, jendela dibuka,” kata Laura.
Perusahaan, lanjut dia, juga mesti berperan aktif mengawasi kondisi pekerja dengan memetakan rekam jejak kesehatan dan potensi risiko setiap karyawan.
Selain itu, para pekerja harus disiplin menjaga protokol kesehatan meski merasa akrab dengan rekan kerja.
“Kalau mau tetap beraktivitas dan roda perekonomian jalan, ya harus terapkan protokol kesehatan. Ini tidak bisa ditawar,” tutur Laura.
Dia mengingatkan pemerintah, perusahaan, dan karyawan perlu bekerja sama mencegah maupun menangani klaster di perkantoran.
Pasalnya, klaster perkantoran bisa meluas ke lingkungan sosial yang lain dari para pekerja jika tidak ditangani dengan baik.
“Kalau tidak dikendalikan tentu ini akan menjadi klaster yang besar, karena setiap pekerja akan kembali ke lingkungannya masing-masing setelah bekerja,” kata Laura.